IRONIS, BELUM SETAHUN JALAN PUSTU RUSAK PARAH

0
188

 

 

Sumateranews.co.id, PRABUMULIH – Ironis, kondisi proyek insfratruktur pembangunan cor beton di Jalan Muara Tiga-Puskesmas Pembantu (Pustu) di Kelurahan Anak Petai, Kecamatan Prabumulih Utara. Sebab belum genap satu tahun kondisinya kini sudah rusak parah. Bahkan, akses jalan menuju tempat berobat medis itu sulit dilalui warga sekitar.

Mirisnya lagi, di tahun 2016 yang lalu tepatnya, Jumat siang (15/11), sekitar pukul 10.30 WIB tim Pengawal dan pengaman pemerintahan dan pembangunan daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri (Kejari) Prabumulih bersama aparat pengawas internal pemerintah (APIP) pun telah melakukan peninjauan kondisi jalan yang menghabiskan dana anggaran dari APBD tahun 2016 senilai sekitar Rp 1,1 milyar!

Bahkan diketahui saat peninjauan dilakukan tersebut, Ketua Tim APIP Inspektorat, Sulistiyo pun mengungkapkan meski waktu pelaksanaan proyek pembangunan jalan Muara Tiga-Pustu tersebut telah berakhir, namun masa pemeliharaannya sampai April 2017 kemarin.

Akan tetapi, pembangunan insfratruktur jalan yang seharusnya kini sudah dapat dinikmati oleh warga tersebut saat ini kondisi jalannya malah semakin hari semakin parah hingga sulit dilalui kendaraan baik roda empat maupun roda dua.

Menurut sejumlah keterangan dari warga setempat mengungkapkan bahwa jalan utama Kampung Muara Tiga tersebut dahulunya merupakan jalan kapling yang paling bagus di wilayah Kelurahan Anak Petai, Prabumulih Utara. Namun, di saat adanya pembangunan jalan itu belum setahun dibangun, malah kini rusak parah.

“Kondisi jalan pustu yang rusak ini, sebetulnya dari sejak baru dibangun tahun kemarin itu sudah berulang-ulang kami laporkan ke pihak pemerintah. Tapi lihat saja Pak kondisinya sampai sekarang ini masih seperti itu malah semakin rusak parah,” ujar Samsudin (46) salah seorang warga setempat ketika dibincangi di lokasi jalan, Rabu (12/7).

Ia pun mengatakan bahwa pihaknya melaporkan hal itu sebelumnya pun sudah menegur rekanan proyek betonisasi untuk memperbaiki jalan yang telah rusak akibat diduga kualitasnya yang rendah. Sebab, jangankan setelah dibangun jalan tersebut, beberapa hari turun hujan berturut-turut saja, kondisi dasar jalannya mulai tampak terlihat.

“Kami tidak mau sebetulnya mempersoalkan jalan ini berlarut-larut, kami cuma berharap agar tahun 2017 ini segera diperbaiki saja karena kondisi tanah di kawasan ini tidak stabil. Tapi kami warga di sini juga sangat berharap keluhan kami ini tolong diperhatikan jangan sampai nantinya warga akan bertindak sendiri,” cetusnya.

Hal senada juga dikeluhkan oleh Yanuar Haris (43) salah satu pengendara motor yang sehari-hari kerap melintasi jalan tersebut. Pria yang sehari-harinya bekerja sebagai pedagang sayuran di Pasar Prabumulih ini menjelaskan, bahwa jalan tersebut merupakan jalan utama Kampung Muara Tiga menuju Pustu dan akses jalan terdekat menuju ke Pasar Prabumulih.

Sehingga, sambung Yanuar, dirinya harus memaksakan diri melintasi jalan rusak tersebut walaupun kondisi jalan rusak parah. “Wah kalau ditanya ngeluh, iya pasti lah Pak kami di sini mengeluhkannya. Soalnya bagi saya sendiri harus di lintasi setiap harinya. Yang susahnya kalau musim penghujan, jalannya kan kadang adanya menurun dan naik jauh jadi sangat licin sehingga sangat rentan terjadi kecelakaan,” tandasnya.

Sekedar mengingat, saat peninjauan di tahun 2016 yang lalu tersebut, tim TP4D Kejari dan APIP Inspektorat, tampak juga salah satu pihak PPTK proyek pelaksanaan jalan Muara Tiga-Puskesmas Pembantu (Pustu) itu tak lain, Rizal. Pegawai Dinas PU Pemkot Prabumulih saat itu menjelaskan, saat itu kondisi jalan baru selesai sekitar 60 persen sehingga belum dapat menghitung besaran volume pengerjaannya.

“Waktu penagihan 50 persen, kondisi untuk bobot fisiknya jalan ini baru selesai sekitar 60 persen dan untuk selebihnya kita belum cek lagi,” kata dia kala itu seraya mengatakan dalam pelaksanaan serah terima kontraktor dan pihak PPTK belum dilakukan.

Sementara, Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Prabumulih, M Husein Atmadja SH MH melalui Kasi Intel, Hermansyah SH menuturkan, pihaknya pun diminta sebelumnya sebagai pendampingan hukum oleh Pemkot Prabumulih, sehingga lebih berperan adalah pihak APIP yang tak lain Inspektorat.

“Kita lihat dulu nanti RAB dan sebagainya, namun masyarakat bisa melaporkan langsung ke APIP atau inspektorat nanti baru ke kita. Sejauh ini baru beberapa dinas yang meminta pendampingan di kita dalam tim TP4D sebagai pengawasan di Dinas Pertanahan, Perdagangan termasuk Dinas PU,” tandasnya.

Laporan   : Syahrial

Editor       : Imam Ghazali

Posting     : Andre

sumatranews.co.id1 id : 10717 Under Article