Ibadah Puasa Tidak Seperti Ditahun Sebelumnya

60
Imam Irfa'i, S.Kom.I Penyuluh Agama Islam Kemenag Muba Sumatera Selatan

Oleh : Imam Irfa’i, S.Kom.I

Penyuluh Agama Islam Kemenag Muba Sumatera Selatan

Selalu terngiang-ngiang dengar nama virus corona baik di media cetak maupun dunia maya, jagat raya mengenalnya hingga merenggut 743 meninggal data update terakhir 26 april 2020, akibat covid 19 di Indonesia.

Dengan cepat penularan yang mencengangkan mengikuti lajunya perkembangan manusia lewat berbagai transportasi, penyakit yang menular antara manusia ini menyebar keseluruh pelosok bumi sriwijaya umumnya nusantara hinga mancanegara menjadi pandemi, sampai mengusik seluruh aspek tatanan kehidupan baik ekonomi, sosial, keagamaan, dll, apalagi di masa kebahagiaan kaum muslimin melaksanakan rangkaian ibadah puasa Ramadhan 1441 H.

Ibadah puasa dalam kondisi yang kurang nyaman, ibadah yang selalu was-was  sesama manusia, misalkan kita melaksanakan shalat terawih, shalat berjama’ah lainnya sebelah kita batuk saja kekhawatiran memuncak dalam fikiran kita bahaya covid 19 walapun di daerah masih zona aman di pelosok Desa.

Ibadah puasa tidak seperti di tahun sebelumnya. Biasanya momentum puasa Ramadhan bagi kaum muslimin di bumi sabang sampai merauke menjadi momen tahunan yang sangat spesial dibandingkan momen-momen yang lainnya.

Pada bulan ini kaum muslimin bersama-sama, tanpa membedakan status sosial kaya-miskin, melaksanakan ibadah puasa selama sebulan, shalat tarawih di masjid, makan sahur bersama, berbuka puasa bersama, bahkan saling berlomba memperbanyak amal perbuatan yang baik. Sebut saja, mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an, mengadakan kajian Ramadhan, dan masih banyak yang lain.

Pada surah al-Baqarah ayat 185 disebutkan tentang keutamaan Ramadhan: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Sebuah keutamaan bulan suci ramadhan adalah diturunkannya Al-Qur’an, kitab yang menjadi tumpuan referensi segala bentuk disiplin pengetahuan, kitab yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan, bahkan kitab yang telah dibaca oleh miliaran orang di penjuru dunia.

Selain itu, puasa ramadhan memiliki keutamaan mustajab atau terkabulnya doa, sehingga dengannya kaum muslimin berlomba-lomba memperbanyak doa, baik urusan duniawi maupun urusan ukhrawi. Disebutkan dalam sebuah hadis Nabi Saw.

Ramadhan adalah waktu terkabulnya doa dikuatkan dengan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

“Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa maka pasti dikabulkan.” (HR. Al Bazaar. Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 10: 14) mengatakan bahwa perowinya tsiqah terpercaya.

Pada kesempatan lain, Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)

Imam Nawawi berkata, “Pada waktu itu adalah waktu tersebarnya rahmat, banyak permintaan yang diberi dan dikabulkan, dan juga nikmat semakin sempurna kala itu.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 36)

Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Doa dan istighfar di waktu sahur adalah  diijabahi (dikabulkan).” (Fathul Bari, 3: 32)

Sekian keutamaan ibadah tersebut sedikit banyak terganggu dengan wabah Virus Corona. Kaum muslimin tidak memiliki momen melaksanakan tarawih bersama, berbuka bersama, bahkan sahur bersama. Imbauan pemerintah pusat hingga kabupaten untuk beraktivitas di rumah sungguh membuat kaum muslimin bersedih.

Sekalipun di rumah semua orang Islam masih bisa melakukan tarawih, berbuka, baca Al-Qur’an dan lain-lain, kesan yang dirasakan jauh berbeda jika semua itu dilakukan bersama-sama.

Kehadiran Ramadhan mampu menghilangkan sekat pembatas antar manusia yang berbeda, baik secara status sosial maupun kualitas ketakwaan. Semua manusia, terlebih orang Islam, sama-sama bersaudara, sehingga saling menghormati dan menjaga.

Ramadhan memiliki nuansa yang berbeda dibandingkan bulan-bulan yang lain. Selain nuansa persaudaraan, Ramadhan menghadirkan nuasa sufistik yang mampu membawa orang Islam bisa jadi juga orang non-muslim—meraih kebahagiaan yang hakiki lantaran berpuasa pada bulan itu. Kebahagiaan naluriah ini digambarkan dalam sebuah hadis Qudsi: Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.

Lantas, masihkah kebahagiaan itu dapat diraih oleh kaum muslimin bila berbuka puasa itu hanya dilakukan di rumah saja? Mungkin juga, kebahagiaan itu ada. Lagi-lagi, itu tidak bakal sama dengan kebahagiaan berbuka yang dilakukan secara bersama-sama. Berbuka puasa bersama akan menghadirkan kebahagiaan yang berlipat ganda (double happiness), yaitu kebahagiaan berbuka dan kebahagian kebersamaan. Kemudian, masihkan kita memaksakan kehendak untuk meraih kebahagiaan berlipat di tengah wabah Virus Corona?

Saya pikir, tidak perlu memaksakan diri meraih kemaslahatan (kebahagiaan kebersamaan). Sementara, yang terpenting kaum muslimin menghindar dari kemafsadatan (Virus Corona). Sikap ini juga dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.

Sebagaimana yang terekam dalam hadis beliau: Umar Ibn Khattab RA menempuh perjalanan menuju Syam. Ketika sampai di Sargh, Umar mendapat kabar bahwa wabah sedang menimpa wilayah Syam. Abdurrahman Ibn Auf mengatakan kepada Umar bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, ‘Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi wabah di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.’ Lalu, Umar Ibn Khattab berbalik arah meninggalkan Sargh.

Melalui tulisan ini, saya hanya ingin saling mengingatkan untuk lebih memilih waspada dari penularan atau tertular Virus Corona daripada berlomba meraih kemaslahatan yang berlipat di bulan Ramadhan. Kaum muslimin terus berusaha dan berdoa memerangi wabah ini.

Allah Maha Tahu situasi hamba-Nya. Saya yakin, di tengah zona darurat sekarang ini, Allah tidak bakal mengurangi pahala atau kualitas ibadah seseorang lantaran hanya melakukan di rumah saja.(*)

New Subject

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here