HYU Meminta Vanuatu Stop Memprovokasi NKRI dan Mencampuri Urusan Negara

0
3455
KEDAULATAN NKRI ; Dari kiri HYU, tengah Moeldoko, dan kanan Wenas M Tafar, Sekjend Dewan Pimpinan Nasional Gerakan Cinta NKRI.

Sumateranews.co.id, JAKARTA – Ketua Dewan Pimpinan Nasional Gerakan Cinta NKRI, Hendrik Yance Udam (HYU) mengutuk keras Negara Vanuatu yang dinilainya selalu mencampuri urusan domestic NKRI. Sebaliknya ia meminta, Vanuatu untuk lebih fokus mengurus masalah dalam negerinya dan membawa kesejahteraan bagi rakyatnya sendiri ketimbang mengurus urusan internal Indonesia.

Pernyataan keras itu disampaikan HYU, melalui siaran persnya di Kantor Sekretariat Pusat Jakarta, pada Selasa (11/09/208) sore. Tak hanya itu, sebagai anak papua asli ras melanesia dan sebagai anak bangsa NKRI dirinya meminta Vanuatu supaya mematuhi piagam PBB, dan tidak usah melakukan manuver manuver politik yang akan dapat menganggu hubungan bilateral kedua negara.

“Kami sudah hidup damai dan tenang dalam NKRI untuk itu kami meminta kepada negara-negara di pasifik rumpun melanesia terlebih khusus Vanuatu untuk kiranya dapat menghargai kedaulatan NKRI dari sabang sampai dengan merauke. Tidak usah melakukan manuver-manuver politik yang akan dapat menganggu hubungan bilateral NKRI  di negara- negara rumpun Melanesia,” tegas pria yang akrab disapa HYU ini.

Menurut HYU, Vanuatu harus menghargai kedaulatan NKRI dan berterimakasih kepada NKRI sebab pada tahun 2015 yang lalu NKRI memberikan bantuan kemanusian senilai dua juta dolar US kepada Vanuatu yang hancur dan lumpuh akibat badai tropis dan juga memberikan bantuan kemanusian dalam menangani  bencana alam seperti proses rekonstruksi dan rehabilitasi negara Vanuatu.

“Negara Vanuatu tidak boleh mendengar berita- berita bohong terhadap isue-isue papua yang di kembangkan oleh ULMWP bahwa papua tidak dibangun dengan baik,” imbuhnya.

Lebih jauh, HYU mengatakan apabila Dewan Pimpinan Nasional Gerakan Rakyat Cinta NKRI sudah mendapatkan dana operasional organisasi yang tetap, maka salah satu program akan melakukan tour of duty ke negara-negara di pasifik rumpun Melanesia.

“Anak-anak asli papua saya akan ajak untuk bisa melihat perkembagan pembangunan di negara- negara tersebut terlebih khusus negara Vanuatu sehingga mereka bisa membandingkan pembangunan yang ada di negara-negara tersebut dengan pembangunan yang ada di papua sehingga generasi muda asli papua ini yang adalah merupakan pilar- pilar pembagunan di papua dan NKRI akan bersuara dengan lantang bahwa papua sangat maju dalam segala sector,” jelasnya.

Dalam kegiatan itu, pihaknya juga akan melakukan komunikasi- komunikasi dan dialog dengan tokoh-tokoh negara di pasifik rumpun melanesia untuk menjelaskan bahwa papua sudah sangat maju sekali di dalam NKRI, dan meminta kepada negara- negara yang tergabung di dalam rumpun melanesia di pasifik untuk mendukung sepenuhnya Papua dalam NKRI serta teritorial NKRI dari sabang sampai merauke.

“Kami meminta Vanuatu jangan memprovokasi negara-negara rumpun melanesia dengan mengelola isue-isue papua di dunia internasional untuk kepentingan kelompok tertentu di luar negeri yang bersembunyi di balik isu politik papua merdeka. Papua sudah final dalam bingkai NKRI dan tidak  dapat diganggu gugat oleh bangsa-bangsa di dunia termasuk Vanuatu,” tegas Hendrik.

Masih dalam siaran persnya, HYU juga menyampaikan dan memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Sekretaris Jenderal Forum Negara Kepulauan Pasifik (PIF), Dame Meg Taylor, yang sudah menolak kehadiran United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) untuk membawa isu papua merdeka ke dalam forum internasional tersebut.

ULMWP, Hendrik jelaskan bukan sebuah negara berdaulat yang mewakili negara- negara di kepulauan pasifik dan juga bukan merupakan anggota tetap PIF dan tidak berhak mewakili Papua kedalam forum-forum internasional di kepulauan pasifik dan bahkan dalam forum- forum PBB sebab papua adalah merupakan bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kami juga memberikan dukungan dan penghargaan setinggi- tingginya kepada beberapa negara-negara di pasifik rumpun melanesia antara lain negara Australia, Fiji dan PNG yang telah memberikan dukungan politiknya dalam diplomasi politik internasional untuk menolak negara Vanuatu karena mengganggu kedaulatan NKRI melalui isu-isu papua merdeka ke forum-forum internasional negara- negara di pasifik selatan rumpun melanesia serta ke forum PBB. Ini merupakan langkah diplomasi politik yang sangat baik dalam menjaga hubungan persahabatan dan bilateral NKRI sebagai mitra strategis di kawasan negara-negara di pasifik rumpun Melanesia,” tandasnya.

“Langkah-langkah yang diambil oleh negara PNG, FIJI dan Australia adalah sangat tepat dan harus pula diikuti oleh negara negara di pasifik termasuk negara Vanuatu untuk mendukung kedaulatan NKRI dari sabang sampai dengan merauke,” lanjut Hendrik.

Terakhir, dia katakan, Papua sudah final dalam NKRI yang dituangkan dan dijelaskan dalam Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) tahun 1962.

Laporan : Fri

Editor     : Donny