Heboh! Warga Kaplingkan Tanah Lapangan Bola Kaki Muara Dua

0
683
Tampak Lahan Lapangan Bola Kaki yang berada tepat didepan Kantor Kelurahan Muara Dua, Kecamatan Prabumulih, yang diklaim dan dipatok menjadi kaplingan oleh sejumlah warga yang mengaku sebagai ahli waris.

Sumateranews.co.id, PRABUMULIH – Warga Kelurahan Muara Dua, Kecamatan Prabumulih Timur, kota Prabumulih, Selasa (07/11) pagi, dihebohkan dengan ulah sekelompok warga yang memasang patok kaplingan di sekitar tanah lapangan bola kaki dan mengklaim merupakan tanah hak milik mereka. Akibat tindakan sejumlah warga ini membuat sebagian warga lain resah dan melaporkannya ke pihak kelurahan setempat.

Warga menggangap selama ini lahan yang terletak didepan kantor Kelurahan Muara Dua, kecamatan Prabumulih Timur dan difungsikan sebagai lapangan bola kaki tersebut adalah lahan milik Pemerintah Kota Prabumulih.

“Saya menolak menandatangani lantaran mereka tidak bisa menunjukkan bukti sah kepemilikan tanah itu. Tapi mereka tetap bersikukuh mengaku tanah mereka dan melakukan pematokan. Alasan tanah itu adalah tanah warisan dari nenek moyangnya. Mengapa baru sekarang mereka mengakui itu tanahnya, padahal lapangan bola ini sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu,” ungkap Ketua RT 02 RW 02, Amruk Mawan, dihubungi usai menghadiri pertemuan bersama pihak Kelurahan Muara Dua, Kecamatan Prabumulih TImur, Cambai dan apparat kepolisian, Selasa siang.

Dijelaskannya, sebelum dilakukannya aksi pematokan tanah dirinya sempat didatangi oleh sejumlah warga yang mengaku sebagai ahli waris pemilik tanah. Ia diminta untuk menandatangi surat izin dilakukannya pematokan diatas lahan tersebut.

Sementara Lurah Muara Dua, Muslim mengaku pihaknya masih menunggu bagian arsip Pemerintah kota Prabumulih guna mengetahui status asli sengketa lahan tersebut. “Karena masih deadlock, tidak ada titik temu pada pertemuan tadi. Jadi kita menunggu bagian arsip pemerintah dulu, karena warga ini tetap mengaku tanah lapangan bola itu adalah tanah warisan nenek moyang mereka,” sebut Muslim.

Dikatakannya, baik pihaknya maupun aparat kepolisian masih belum melakukan pencabutan patok kayu kapling di lahan tersebut karena masih berupaya menghindari terjadinya bentrokan antar warga. Guna mengetahui keberadaan lahan itu, pihaknya juga telah memanggil dan menggumpulkan seluruh RT, RW serta tokoh masyarakat.

“Kita tidak ingin terjadi kerusuhan dalam masalah ini. Makanya saat rapat tadi kita juga mengumpulkan seluruh RT dan RW termasuk tokoh masyarakat setempat. Untuk mengetahui silsilah kepemilikan tanah yang sebenarnya sehingga bisa ditarik benang merah dalam masalah ini,” terang Muslim.

Lebih jauh, Muslim menuturkan sebelum dilakukan pengkaplingan oleh salah satu warga tersebut, pihaknya pernah dipinta untuk mengeluarkan surat untuk proses pembuatan sertifikat tanah yang saat ini menjadi sengketa.

“Kita tidak bisa memenuhi permintaan mereka, karena tidak ada dasar atau bukti atas kepemilikan tanah. Mereka hanya mengaku jika tanah tersebut adalah milik orang tuanya,” jelasnya.

Terpisah, Mat Nazar salah satu warga yang mengaku dari ahli waris lahan tersebut menyebut pihaknya tidak memiliki surat-surat yang jelas. Dia menuturkan, lahan itu dahulunya memang difungsikan untuk fasilitas umum yang izinnya diberikan oleh orangtuanya. 

“Ini hak kami, mana mungkin kami berani untuk mematok tanah ini kalau bukan milik kami. Masalah surat menyurat di zaman itu belum ada, pernah kami mengajukan untuk membuat sertifikat namun tidak digubris dengan alasan status kepemilikan tanah ini tidak jelas,” ujarnya.

Dia katakan, diatas lahan tersebut akan dibagi menjadi 28 kapling yang nantinya akan dibagikan kepada keturunan ahli waris.

“Kami ada orang tujuh yang menjadi ahli waris. Belum tau mau kami apakan lahan ini. Tapi kalau Pemkot Prabumulih mau mengambil alih lahan ini dan kembali difungsikan sebagai fasilitas umum tidak masalah, asalkan ada kejelasan ganti rugi dari Pemkot,” tukasnya.

Laporan : Donny

Posting   : Andre