Hati-Hati! BPOM Temukan Tahu dan Cincau Berformalin

0
181

Sumateranews.co.id, PRABUMULIH – Untuk menciptakan rasa aman bagi masyarakat yang mengonsumsi panganan buka puasa, BPOM Palembang melakukan langkah pengawasan dan pengujian di Pasar Bedug yang berlokasi di Jalan Padat Karya kota Prabumulih, Kamis (31/5).

Dalam giat tersebut, BPOM berhasil menemukan dua jenis panganan yang positif mengandung formalin pada tahu putih dan cincau hitam.

“Dari sampling hari ini, kami temukan panganan yang mengandung formalin. Itu ditemukan pada tahu putih. Ciri-cirinya  tahu itu awet lebih dari sehari walaupun tidak disimpan dalam lemari pendingin,” ungkap Kepala BPOM Palembang, Dra Dewi Prawitasari Apt MKes, yang langsung memimpin tim pengawasan dan pengujian.

Selain itu lanjut Dewi, pihaknya juga menemukan campuran formalin dalam cincau hitam. “Jadi, hati-hati dalam mengonsumsi es campur yang menggunakan bahan cincau. Karakteristik cincau berformalin salah satunya adalah kenyal dan keras. Kalau yang tidak berformalin, cincau itu mudah hancur,” cetusnya.

Dengan penemuan tersebut, Dewi berharap agar masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih panganan buka puasa. Karena pangan-pangan yang mengandung zat berbahaya itu, tidak langsung berdampak terhadap tubuh berupa gangguan kesehatan.

“Jika tubuh sering terpapar panganan yang mengandung zat berbahaya, akan menimbulkan gangguan kesehatan. Karena secara akumulatif dan jangka waktu tertentu, itu akan menimbulkan kanker,” jelasnya.

Dari sampling tahu yang ditemukan akan dijadikan bahan investigasi oleh BPOM, untuk mengetahui dimana sebenarnya industri tahunya. “Karena yang diduga melakukan pelanggaran dengan menggunakan formalin adalah produsennya. Selama tahun 2018, BPOM sudah menindak empat produsen tahu dan mi kuning. Tiga produsen di Palembang dan satu di Kota Lubuklinggau. Semuanya kami proses pro-justicia.

Untuk penjualnya, lanjut Dewi, pihaknya akan kembali dan memberitahukan kepada mereka jika dagangan yang dijual mengandung zat berbahaya. “Kami juga akan meminta agar dibuang, kemudian akan membuat surat pernyataan untuk tidak lagi menjual panganan serupa,” ungkapnya.

Selama ini, cara tersebut terbilang efektif karena mereka akan takut malakukan itu lagi. Kemudian, mereka juga akan dimonitor langsung oleh dinas kesehatan setempat.

Untuk diketahui, giat pengawasan dan pengujian BPOM yang sudah dilakukan di tiga Kabupaten sebelumnya, dilakukan untuk melindungi masyarakat agar tidak mengonsumsi makanan atau panganan yang mengandung bahan-bahan berbahaya seperti formalin, borax, pewarna merah (Rhodamin B), dan pewarna kuning (Metanil yellow).

Laporan          : Irfan

Editor/Posting : Imam Ghazali