Harga Karet Selalu Turun, Ini Siasat yang Dilakukan Toke Karet Biar Tak Rugi

0
611
Foto Ilustrasi

Sumateranews.co.id, PRABUMULIH – Kenaikan harga minyak dunia menjelang pergantian tahun ini ternyata tidak diikuti dengan kenaikan harga komiditi lainnya, seperti karet. Bahkan meski sebelumnya sempat mengalami kenaikan harga hingga level Rp 9.000 per kilo, namun harga getah karet ini kembali anjlok menjadi Rp 8.500 per kilo, dan menyebabkan sejumlah pelaku pengepul (pembeli getah karet) tidak berani berspekulasi membeli getah karet petani.

“Kita tidak berani ambil resiko atau belum berani membeli getah karet para petani karena harganya belum stabil dan cenderung selalu turun,” ungkap Arlan (45), salah satu toke karet di wilayah kota Prabumulih, saat ditemui dikantornya, Selasa (26/12).

Menurut Arlan, keputusan itu dia ambil disebabkan dirinya tidak mau rugi dan terjebak dalam harga penjualannya yang sering berubah dan selalu stagnan (turun, red). “Jelas rugi kita selaku pembeli, sedangkan yang namanya bisnis karet pastilah ingin untung bukannya buntung,” tandas Arlan.

Bahkan, sambung dia, akibat dampak dari tak menentunya harga karet di pasaran beberapa bulan terakhir ini membuat dirinya menahan diri dan memilih tidak mengikuti lelang karet. “Sudah satu tahun lebih tidak lagi ikut lelang, saat ini bersama kawan kawan kita hanya melakukan pemantauan harga, jika harganya stabil atau naik baru akan ikut lelang lagi membeli getah karet para petani,” terang toke karet asal daerah Sugihan Kecamatan Rambang Muaraenim ini.

Sementara tak menentunya harga karet di pasaran juga membuat para petani komoditi ini semakin menjerit. Diantaranya, seperti yang diutarakan sejumlah kelompok petani yang tergabung di Koperasi Manunggal Jaya. Selain mengeluh terus turunnya harga karet, sedangkan harga kebutuhan bahan pokok (sembako) terus mengalami kenaikan, kondisi cuaca belakangan ini juga semakin membuat para petani karet merugi dan sebagian banyak beralih ke profesi lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Keadaan ini sudah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir, bahkan sudah beberapa tahun lamanya,” sebut Ketua Koperasi Manunggal Jaya, Pendi, ditemui dikediamannya, di desa Muara Sungai Kecamatan Cambai, baru baru ini.

Menurut dia, nasib para petani (mereka) saat ini sangat memprihatinkan dan tak bisa berbuat apa apa menyusul terus turunnya harga karet. Pihaknya tidak memiliki pilihan lain, tetap menyadap dan menjualkan hasil karetnya ke toke karet. “Kami kan tender 2 kali dalam 1 bulan, jadi keadaan ini makin menyiksa para petani karet yang tergabung di kelompok Manunggal Jaya ini,” ujarnya.

Terakhir, Pendi pun berharap, pada pergantian tahun khususnya di tahun 2018 harga karet mengalami kenaikan cukup signifikan dan bergairah.

“Selain harga getah karet murah ditambah kondisi cuaca tidak menentu saat ini, sangat mempengaruhi hasil getah karet yang kami sadap. Mudah-mudahan pada momen pergantian tahun 2018  nanti ada kenaikan harga getah karet,” tukasnya.

Laporan : AD

Editor     : Donny