GTKHNK35+ Minta Presiden dan Gubernur Sumsel Mengangkat Guru Honorer Jadi ASN Tanpa Tes

1384
Ratusan guru honorer di Sumsel, yang tergabung dalam Organisasi Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer Non Kategori Usia 35 Keatas atau disingkat GTKHNK35+ menggelar Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda), di hotel Swarna Dwipa Palembang, Minggu (9/8/20).

Yenni Marantika Terpilih Nahkodai GTKHNK35+ Sumsel

Sumateranews.co.id, PALEMBANG, – Keinginan untuk diangkat jadi ASN tanpa tes segera didengar Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) dan Gubernur Sumsel, terus digaungkan oleh para guru honorer khususnya di Sumsel. Bahkan, untuk mewujudkannya para pahlawan tanpa tanda jasa, yang tergabung dalam Organisasi Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer Non Kategori Usia 35 Ke atas atau disingkat GTKHNK35+ ini menggelar Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda), di hotel Swarna Dwipa Palembang, minggu (9/8/20).

Penasehat GTKHNK35+, Soleman M.Pdi ketika diwawancarai usai Rakorda mengatakan, bahwa dibentuknya wadah bagi para guru honorer ini agar pemerintah daerah maupun pusat segera memperhatikan dan mengakomodir guru honorer yang tidak masuk dalam kategori K1 dan K2, yang usianya sudah di atas 35 tahun ke atas supaya diangkat jadi ASN tanpa tes lagi.

“Berkaitan dengan agenda kita hari ini, GTKHNK35+ ini adalah wadah guru honorer yang tidak terakomodir dalam kategori K1 dan K2 yang usianya di atas 35 tahun ke atas. Mengapa adanya wadah, karena guru guru honorer ini tidak dapat mengikuti lagi tes cpns dan tidak masuk lagi ke dalam Kategori 1 dan Kategori 2,” ungkap Soleman.

Dia mengatakan, berdasarkan historis adanya GTKHNK35+ ini diawali oleh Ketua Umum Pusat, H. Nasrullah Muchtar yang mempunyai tekad untuk membentuk sebuah wadah dan diberi nama GTKHNK35+.

“Alhamdulillah sudah terbentuk se-Indonesia, dan ini adalah rangkaian dari hasil Rakornas di Jakarta, dan hari ini sudah terselenggara Rakorda yang merupakan momentum bagi GTKHNK35+ se-Provinsi Sumatera Selatan, saya selaku penasehat yang juga sebagai perintis diberikan amanah oleh kawan kawan pusat untuk menggelar musyawarah dan sudah terpilih ibu Yenni untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan kawan kawan GTKHNK35+ di pusat. Saya akan terus mengawal dan mendampingi sehingga ini terus berjalan sebagaimana mestinya dengan SOP yang sudah ditentukan oleh pusat,” terang Soleman.

Lebih jauh Soleman juga berharap, dengan terselenggaranya Rakorda ini perjuangan para guru honorer tetap solid untuk terus berjuang sesuai dengan SOP, yang pertama mendapatkan dukungan dari kepala daerah dan DPRD masing-masing daerah yang ada di Provinsi Sumatera Selatan, kemudian juga mendapatkan dukungan dari Gubernur Sumsel dan DPRD Sumsel.

“Setelah itu akan disampaikan ke Presiden RI untuk dapat dipertimbangkan bahwa seluruh daerah di Indonesia sudah mendapatkan dukungan dan perjuangan GTKHNK35+ agar dapat diperjuangkan untuk diangkat menjadi ASN tanpa test,” ucapnya.

Apalagi, dia tambahkan, bahwa pihaknya sudah melakukan berbagai upaya dan langkah-langkah disetiap daerah yang ada di Sumsel, dan sudah mendapatkan dukungan dari kepala daerah termasuk DPRD Kabupaten dan kota.

“Apabila diistilahkan sudah melayangkan Garuda Emas, baik menggunakan Kop Bupati dan Kop Wali kota suratnya untuk memohon agar diangkat menjadi ASN kepada Presiden RI dengan tembusan ke Kementerian PAN-RB, kemudian ke Kementerian Keuangan karena berkaitan dengan gaji ASN. Kami juga sudah melakukan berbagai upaya dan menghimpun kabupaten dan kota yang belum terkoordinir. Saat ini, yang ada baru sekitar kurang lebih 2498 anggota yang tergabung di GTKHNK35+ Provinsi Sumatera Selatan,” tandas dia.

Di tempat yang sama, Ketua GTKHNK35+ terpilih, Yenni Marantika, S.PSi berharap  kedepannya pemerintah benar-benar memperhatikan nasib guru honorer.

“Karena pengabdian dan kinerja kami selama ini juga tidak kalah dengan guru PNS, bahkan kebanyakan guru honorer lebih berat dan banyak tugasnya dibandingkan dengan guru PNS.

Maka dari itu kami berharap dapat diangkat menjadi ASN melalui keputusan presiden dan dapat bekerja dan di tempatkan di mana pun,” selorohnya.

Yenni juga mengatakan, bahwa para guru honorer siap menjadi guru apa saja dan bekerja sesuai dengan standar yang ada.

“Kami juga ingin dibayar dengan upah minimum (UMR) dan mendapatkan hak selayaknya guru yang sesuai dengan standar yang ada,” tandas Yenni, yang saat ini mengajar di SMK Negeri Rawas Ulu, Kabupaten Muratara, Provinsi Sumatera Selatan.

Laporan : Are III Editor : Donni

New Subject

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here