Giliran BBM Solar Bersubsidi Mulai Dibatasi

566

Sumateranews.co.id, PRABUMULIH –  Tak hanya meteran listrik (kWh) PLN bersubsidi pelanggan 900 VA yang ditarik dan dicabut pemerintah. Hal yang sama juga mulai diberlakukan pada Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar.

Terhitung sejak Minggu (15/9/2019) lalu pemerintah melalui Pertamina mulai membatasi jumlah pembelian jenis solar bersubsidi.

Akibat pembatasan pembelian BBM solar bersubsidi tersebut mulai menimbulkan beragam keluhan di tengah masyarakat khususnya para pemilik kendaraan berbahan dasar BBM solar.

“Ya pak, kita sempat kagek, kok di kota Prabumulih solar bersubsidi dijatahi, saya tadi cuma mendapat 20 liter padahal saya mau mengisi full,” gerutuk Osmon (42), ditemui usai mengisi BBM solar bersubsidi kendaraan pribadi miliknya, di salah satu SPBU di kawasan Cambai, Kota Prabumulih, Kamis sore (19/9/2019).

Padahal, menurut dia, kota Prabumulih merupakan salah satu kota penghasil minyak terbesar khususnya di Sumatera. Sementara di kota lain, yang penghasilan minyaknya sangat sedikit tidak diberlakukan.

“Semestinya, pemerintah untuk di wilayah berpenghasilan minyak harus memberikan lebih quota jatah BBM. Ini tak adil, Pertamina harus bijaklah,” timpall Gun, warga Kelurahan Prabumulih, Kecamatan Prabumulih Barat, menambahi.

Terpisah, Feri pengawas SPBU, 2431139 Cambai ketika dikonfirmasi, Kamis (19/9/2019) membenarkan mulai diberlakukannya Peraturan Peruntukan Pengunaan Solar Bersubsidi sejak beberapa hari yang lalu.

“Telah ada imbauan untuk pemakai bahan bakar jenis solar bersubsidi dibatasi,” terangnya, saat ditemui di kantornya.

“Kalau kita sudah tiga hari lalu membatasi penguna bahan bakar jenis solar bersubsidi, dan kita juga telah memasang imbauan atau stiker untuk penguna bahan bakar solar ini mas,” tambahnya.

Lebih detail lagi feri menjelaskan untuk jenis mobil yang mamakai bahan bakar solar bersubsidi, meliputi angkutan barang roda empat hanya 30 liter, angkutan barang roda 6 hanya 60 liter dan kendaraan pribadi hanya 20 liter.

Sementara untuk kendaraan yang dilarang mengunakan bahan bakar solar bersubsidi meliputi, mobil hasil pengangkut perkebunan dan pertambangan dengan roda lebih dari enam. Mobil tengki BBM, CPO, Truk Trailer, truk gandeng, Dam truk, mobil molen (pengangkut semen).

“Sedangkan, yang dilarang mengunakan solar bersubsidi tanpa rekomendasi pada sektor, seperti usaha mikro, perikanan, pertanian, pelayanan umun dan transfortasi air. Dan kita berpatokan dengan surat edaran BPH Migas 3865 E/ KA/ BPH 2019 Pengendalian Kuato JBT tahun 2019”, tutupnya.

Posting : AD

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here