Genjot UMKM Demi Perbaikan Ekonomi, Mampukah Jadi Solusi?

68
Genjot UMKM Demi Perbaikan Ekonomi, Mampukah Jadi Solusi?
Foto ilustrasi UMKM.

Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis Muslimah dan Penulis)

Bank Indonesia (BI) Balikpapan berencana mengadakan “Gerbang (Gerakan Bangkit dan Bangga) UMKM 2020”. Gerakan ini telah dilakukan semenjak 2019 dibarengi dengan pameran UMKM.

Namun untuk tahun 2020, pelaksanaannya dilakukan secara virtual karena kondisi pandemi. kegiatan Gerbang UMKM ini merupakan penghargaan kepada sejumlah UMKM unggulan yang telah diberikan pembinaan selama 1 tahun oleh pemerintah.

Kegiatan Gerbang UMKM 2020 ini juga merupakan rentetan dari Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia yang digagas oleh pemerintah pusat. Berdasarkan pengalaman pada saat terjadi krisis tahun 1998 lalu, UMKM memang merupakan salah satu sektor yang membantu dalam meningkatkan perekonomian saat itu.

Dan dalam kegiatan pelatihan yang diberikan, mendorong agar UMKM bisa bertahan dalam pandemi Covid-19 ini, dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Karena berdasarkan catatan Bank Indonesia, dari sejumlah perusahaan yang ada di Indonesia, hampir 95 persen levelnya masih berada pada taraf UMKM. Bahkan untuk di wilayah Kalimantan Timur sendiri sekitar 70 persen lebih itu masih berada pada sektor UMKM. ( Sumber : Website Kapefm)

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir membeberkan alasan pemerintah terkait besarnya nilai alokasi biaya penanganan Covid-19 bagi sektor UMKM. Diketahui nilai alokasi yang diteken pemerintah untuk UMKM mencapai Rp 123,46 triliun.

Menurut dia, ‘suka tidak suka’ kesuksesan berbagai program untuk perbaikan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19 bergantung pada UMKM. Sebab sektor usaha ini mampu menyerap 97 persen tenaga kerja di dalam negeri. ( sumber : bisniscom)

Dengan memperhatikan langkah yang diambil pemerintah maka kita dapati bahwa ada ketergantungan terhadap sektor UMKM untuk menggerakkan roda perekonomian. Ya, memang masyarakat negeri ini semakin terlihat mengembangkan UMKM untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Dan semakin menjamurnya UMKM, dinilai akan menggerakkan roda perekonomian dan meminimalisir pengangguran.

Namun, ada satu sisi yang tidak disadari bersama, yakni betapa lemahnya negara merumuskan pemasukan harta agar ekonomi bisa berjalan. Terbukti dengan mengandalkan sektor mikro yang dijalankan masyarakat. Atau bergantung pada dana pajak untuk operasional negara. Padahal, ini adalah pos yang kecil apalagi sampai mampu mensejahterakan masyarakat.

Sejatinya, gelontoran dana yang diberikan untuk UMKM hanyalah fatamorgana yang dibangun pemerintah sehingga seolah-olah membantu perekonomian masyarakat kecil. Realitanya, pemerintah berusaha berlepas tangan terhadap kewajiban memenuhi kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan yang menjadi tanggung jawab negara untuk mewujudkannya ternyata diserahkan ke masing-masing masyarakat dengan usaha bisnis yang dilakoni.

Inilah potret kerapuhan sistem ekonomi kapitalisme apabila diberlakukan di tengah masyarakat. Sistem ekonomi ini rusak dan cacat sejak kelahirannya, mudah terguncang hingga memicu resesi, apalagi di kondisi pandemi seperti sekarang.

Sistem ekonomi ini hanya akan memposisikan kepentingan para pemilik modal besar sebagai hal utama, dibandingkan kepentingan umat. Sistem kapitalisme hanya bisa menjanjikan kesejahteraan, tapi hanya ilusi. Karna, beredarnya harta hanya akan dinikmati oleh para kapitalis saja, dan masyarakat harus memungut recehan dari UMKM yang dianggap sebagai solusi.

Memang negara telah kehilangan wibawanya jika memakai sistem kapitalisme. Negara justru membuka borok sebagai pihak yang mengkapitalisasi kekayaan milik rakyat kepada para pemilik modal. Sehingga, negara berpuas diri hanya dengan pemasukan pajak atau retribusi yang ditarik dari masyarakat.

Berbeda jika kita mengambil Islam sebagai solusi. Islam hadir ke tengah manusia sebagai jawaban atas banyaknya masalah yang ada. Islam bukan hanya mampu menyelesaikan masalah ekonomi, tapi seluruh problematika akibat perbuatan manusia. Islam adalah ideologi shahih yang berasal dari Wahyu, mampu tuntaskan masalah ini semua.

Dalam Islam, negara memposisikan diri sebagai raa’in (pengurus) yang melayani umat dengan syariat Islam. Artinya, negara adalah institusi penerap hukum Allah, Khalifah sebagai penjaganya agar hukum Allah berjalan di tengah umat. Negara akan selalu hadir, terlebih di tengah musibah pandemi seperti sekarang. Berusaha segera menyelesaikan secara integral, bukan memberatkan aspek ekonomi semata.

Dengan sistem ekonomi Islam yang memiliki kejelasan konsep kepemilikan dan distribusi harta, akan mewujudkan pemenuhan kebutuhan pokok maupun kolektif dengan baik di tengah masyarakat. Bahkan dengan penerapan Islam Kaffah, kesejahteraan adalah konsekuensi logis.

Kesejahteraan dalam islam di nilai dari terpenuhinya hajat hidup masyarakat baik yang pokok secara keseluruhan,dan masyarakat memiliki harta untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier. Dan dalam Islam, negara wajib mewujudkannya. Sehingga, bukan hanya ekonomi bisa diperbaiki dengan Islam, melainkan ekonomi umat kuat anti resesi dalam kondisi apapun. Ini hanya akan terwujud dengan penerapan syariah dan penegakkan khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here