Gasak Tuntut DKPP Copot Komisioner Bawaslu Asahan, Langgar UU Pemilu

ASAHAN – Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Anak Sumatera Anti Kezholiman (Gasak) kembali lakukan unjuk rasa di depan Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Asahan, pada Kamis (17/11/2022).

Walaupun diterpa hujan deras, tetapi semangat para mahasiswa tidak kendor dan tetap menyampaikan tuntutannya, meski tidak diperkenankan masuk ke teras Kantor Bawaslu Asahan. Barisan massa tetap bertahan di depan pintu pagar, dan menunggu para petinggi Bawaslu untuk menemui mereka.

Ketua Gasak, Erianda Saragih yang akrab disapa Nanda ini mengatakan, bahwa unjuk rasa yang kedua ini dilakukan karena yang pertama aspirasi mereka belum mendapat sambutan dari Bawaslu Asahan. Nanda juga menegaskan, akan terus melakukan demo lanjutan apabila Bawaslu Asahan belum atau tidak bersedia menindak lanjuti tuntutan mereka.

Lebih lanjut dikatakan Nanda, unjuk rasa yang kedua ini tetap dengan tujuan yang sama, mengacu keinginan masyarakat Asahan, yaitu Pemilu yang terintegritas. Hal ini harus diawali dari para penyelenggara yang independen, tidak memiliki kepentingan politik, sehingga benar benar bersih dari kepentingan Parpol.

“Kalau penyelenggara pemilu tersandera oleh kepentingan politik, kemudian para penyelenggara yang dalam hal ini para Panwascam yang baru saja direkrut oleh Bawaslu Asahan adalah para sukarelawan calon Bupati tahun 2020 lalu, dan para kader partai yang terdaftar di Sistem Informasi Partai Politik (Sipol), Gimana bisa tercipta Pemilu yang bersih, indenpenden dan terintegritas,” tegas Nanda.

Mengakhiri orasinya, Nanda menjelaskan, bahwa Bawaslu Asahan telah melanggar Undang undang Pemilu No.7 Tahun 2017, pasal 117 yang mengatur tentang tata tertib keanggotaan partai politik yang sekurang kurangnya 5 Tahun mengundurkan diri, baru dinyatakan atau diperbolehkan menjadi Penyelenggara Pemilu.

“Dikarenakan telah berani melanggar Undang undang Pemilu secara terang terangan, kami meminta Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) untuk memberikan sanksi tegas dan mencopot Ketua dan seluruh Komisioner Bawaslu Asahan, serta meminta Bawaslu Asahan agar menciptakan Pemilu seha,” tandas Nanda.

Dari pantauan, barulah setelah beberapa jam para mahasiswa bertahan di tengah hujan deras, seorang staf Bawaslu Asahan keluar dari Kantor Bawaslu Asahan, dan menyampaikan kepada para peserta demo bahwa para Komisioner Bawaslu sedang tidak berada di Kantor. Dirinya juga menyebut tidak memiliki kewenangan untuk menjawab pertanyaan para mahasiswa tersebut. (Fik/Hen)

Editor: Donni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *