JAKARTA – Puluhan Jurnalis yang tergabung dalam Forum Jurnalis Migas [FJM] Sumatera Selatan mengunjungi kantor pusat SKK Migas, Kamis (05/11/2026). Mereka berkesempatan melihat langsung Integrated Operation Center (IOC) di Gedung Wisma Mulia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
IOC adalah bagian dari center of excellence SKK Migas. Transformasi digital hulu migas merupakan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendukung target long term plan (LTP) 2030 yaitu produksi minyak 1 juta BOPD dan 12 BSCF. IOC ini merupakan layanan satu daya yang dilaporkan dari engine web secara real time, yang bisa memantau data produksi dan lifting migas, aktivitas eksplorasi, serta pengeboran secara day to day.
IOC merupakan implementasi dari digitalisasi sebagai salah satu pilar transformasi SKK Migas yang dilauncing tepat pergantian tahun 2020 yang lalu.
Kepala Perwakilan SKK Migas Sumatera Bagian Selatan [Sumbagsel], Bambang Dwi Djanuarto, menjelaskan IOC Room merupakan pusat pemantauan aktivitas produksi minyak dan gas bumi nasional yang bekerja secara terintegrasi.
Sistem IOC dapat melakukan day to day monitoring operation secara real time operasi hulu migas sehingga memudahkan SKK Migas mendapatkan akses data KKKS sebagai operator dalam pelaksanakaan pengelolaan kegiatan di wilayah operasi KKKS.
”kalau dulu lewat SMS atau fax, kelemahannya data tanpa terkonfirmasi. Kalau ini layanan satu data secara realtime, tentu dengan berbagai tahapan ada checklist, kemudian diverifikasi baru masuk ke sistem,” kata dia.
Fungsi IOC sebagai pantau lifting nasional. Bahkan, gangguan operasional maupun kebocoran di lapangan diharapkan dapat terdeteksi lebih cepat sehingga penanganannya bisa segera dilakukan,” kata Bambang.
Menurutnya, keberadaan IOC menjadi bagian penting dalam mendukung optimalisasi produksi migas nasional. Dengan pemantauan yang berlangsung setiap saat, berbagai kendala operasional diharapkan dapat diketahui lebih dini sehingga tidak berdampak besar terhadap produksi.
Ia berharap sistem tersebut mampu membantu pemerintah mencapai target produksi migas nasional melalui pengawasan yang lebih cepat, akurat dan terintegrasi.
Sementara itu, Tim PPF SKK Migas, Yogi, mengungkapkan IOC Room mulai dibangun pada 2019 sebagai sistem terpadu untuk memantau berbagai aktivitas operasional produksi migas. Sistem ini juga dapat diakses secara daring oleh pihak-pihak yang memiliki kewenangan.
Tidak sekadar menampilkan angka produksi, IOC memungkinkan SKK Migas memantau perjalanan proses produksi, mulai dari aktivitas operasional di lapangan hingga hasil produksi yang siap dijual. Sistem tersebut juga telah terkoneksi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral [ESDM].
Yogi menjelaskan, sebelumnya pengawasan produksi lebih banyak mengandalkan laporan dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama [KKKS]. Kini, SKK Migas terus mengembangkan sistem agar data produksi seluruh KKKS dapat terintegrasi dan dipantau secara real time.
”Dengan pengembangan tersebut, data produksi migas diharapkan dapat dipantau dan dikendalikan setiap hari secara lebih cepat dan akurat,” ujarnya.
Dalam pemaparan tersebut terungkap, produksi migas nasional saat ini mendekati 600 ribu barel minyak per hari [BOPD] dan 7.000 juta kaki kubik standar per hari [MMSCFD].
Untuk mendongkrak produksi, terdapat 832 kegiatan eksplorasi dan produksi yang direncanakan sepanjang tahun ini. Namun, realisasinya hingga saat ini baru sekitar 500 kegiatan.
Angka tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi industri hulu migas nasional. Di tengah kebutuhan menjaga dan meningkatkan produksi, kecepatan mendeteksi persoalan di lapangan serta efektivitas pengawasan menjadi faktor penting.
Kunjungan FJM Sumsel ke pusat kendali SKK Migas ini sekaligus membuka gambaran bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk mengawal aktivitas hulu migas nasional. Dari satu ruangan di lantai 28 Wisma Mulia, denyut produksi migas dari berbagai wilayah Indonesia terus dipantau, 24 jam sehari, demi menjaga pasokan energi dan mengejar target produksi nasional.
IOC terus berkembang dilakukan perubahan dan perbaikan, sehingga saat ini IOC mampu mendukung kegiatan operasional dari berbagai fungsi.
