Estetika Dental Terhadap Psikososial Remaja

0
382

Oleh : Mujiyati, SE, M.Si

Dosen Poltekkes Kemenkes Palembang  Jurusan Keperawatan Gigi

 

PENAMPILAN  fisik seseorang sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Keuntungan serta kemudahan dalam relasi sosial didapat dari penampilan fisik seseorang yang menarik, seperti pada sebuah konsep pemikiran bahwa kecantikan seseorang seringkali disertai dengan berbagai hal yang positif. Bagian tubuh yang memiliki kecenderungan tinggi dalam mempengaruhi penilaian yang diberikan oleh orang lain adalah wajah. Wajah adalah ciri yang paling mudah terlihat dan oleh karena itu dikatakan sebagai karakteristik fisik yang paling penting dalam pengembangan citra diri dan harga diri, karena interaksi sosial yang positif terbukti menghasilkan hubungan interpersonal yang lebih baik dan lebih percaya diri.

Penampilan wajah, terutama pada bagian mata dan mulut, memiliki tingkatan tertinggi dalam mempengaruhi persepsi estetika seseorang. Namun, dibandingkan dengan bagianyang lain, ketidakpuasan terhadap penampilan wajah seringkali lebih disebabkan oleh keadaan gigi-geligi.

Beberapa penelitian oleh Shaw, Kerosuo, dan Laine (1995) dalam Arsie (2012) telah memperlihatkan penampilan gigi-geligi yang buruk dianggap kurang menarik secara keseluruhan atau biasa disebut dengan estetik dentofasial.

Susunan gigi yang berjejal, tidak teratur, dan protursi telah menjadi masalahuntuk beberapa individu sejak zaman dahulu, dan upaya untuk memperbaiki gangguan ini telah ada setidaknya sejak 1000 SM (Profit, 2013). Tujuan utama sebagian besar pasien untuk melakukan perawatan ortodonti adalah memperbaiki penampilan dentofasialnya. Bagi mereka perawatan ortodonti akan membuat mereka menjadi lebih baik yang mungkin akan meningkatkan kemampuan mereka untuk berinteraksi sosial dengan orang lain karena gigi yang tersusun rapi mampu menunjukkan senyuman menyenangkan yang akan memberikan nilai positif pada sosial. Sedangkan gigi yang tidak rapi atau protrusi akan memberikan nilai negatif terhadap sosial (Ackerman, 2007).

Menurut World Health Organization (WHO), maloklusi merupakan cacat atau gangguan fungsional yang dapat menjadi hambatan bagi kesehatan fisik maupun emosional dari pasien yang memerlukan perawatan. Maloklusi merupakan suatu keadaan abnormal dentofasial yang mengganggu fungsi pengunyahan, penelanan, berbicara serta keserasian wajah dan juga merupakan suatu anomalidento-fasial yang mengganggu fungsi dan memerlukan perawatan. Definisi yang umum ini digunakan dalam menilai kebutuhan perawatan bagi pasien secarai individual, dan melibatkan sejumlah besar ukuran penilaian subjektif. Di Indonesia, prevalensi maloklusi mencapai 80% serta menjadi masalah kesehatan gigi dan mulut ketiga setelah karies dan penyakit periodontal (Liefany, Rattu, dan Wayan, 2014). Maloklusi inilah yang akan mempengaruhi estetik dentofasial seseorang.

Estetik dentofasial berperan dalam hubungan sosial dan kesehatan psikologis. Hal ini mempengaruhi penilaian terhadap diri sendiri dan perlakuan orang lain. Kelainan estetik dentofasial seperti maloklusi akan berdampak negatif terhadap keadaan psikososial sehingga akan mengganggu kesejahteraan psikologis terutama pada masa remaja, dimana beberapa aspek pada penampilan wajah dan estetik gigi geligi menjadi hal yang sangat penting bagi citra tubuh dan harga dirinya. Sebagai bagian dari komunitas sosial, remaja memiliki kebutuhan yang melekat pada dirinya agar dapat diterima di dalam lingkungannya. Setiap perbedaan dan penyimpangan norma yang signifikan dapat menimbulkan perasaan tidak aman, terutama yang berkaitan dengan penampilan dan hal tersebut dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup remaja tersebut.

Masa remaja merupakan masa yang sangat peka untuk perkembangan penyesuaian diri baik secara individu maupun sosial. Keberhasilan remaja mengatasi dan menggunakan kemampuan pengalamannya untuk memecahkan masalah akan membentuk sikap pribadi yang lebih mantap pada masa dewasanya. Kelompok usia remaja laki-laki dan perempuan antara 13 – 17 tahun, yang terbanyak mendapat perawatan ortodontik adalah pasien perempuan. Hal ini disebabkan perempuan sangat memperhatikan penampilan dan pada umumnya remaja menyadari bahwa daya tarik fisik berperan penting dalam hubungan sosial (Setyaningsih, 2007).

Maloklusi memberikan pengaruh negatif terhadap fungsi pengunyahan dan berbicara, serta dapat mempengaruhi psikologis remaja berupa menurunnya kepercayaan diri terhadap penampilan, sehingga remaja berusaha menutup mulut karena malu untuk tersenyum. Maloklusi bukan merupakan suatu penyakit tetapi penyimpangan gigi yang memiliki efek pada psikologi seseorang, seperti berusaha untuk menutupi mulutnya. Anak-anak dan remaja dengan penampilan gigi yang buruk seringkali menjadi sasaran ejekan teman-temannya, sehingga terjadi hambatan interaksi sosial. Sebagian besar maloklusi lebih banyak mempengaruhi kondisi psikososial seseorang karena menganggu estetik, sehingga memunculkan keinginan untuk melakukan perawatan (Rahardjo, 2012).

Menurut Soraya (2012) dalam Kuhu, Kanine, dan Lolong (2014) konsep psikososial kaitannya dengan perkembangan manusia yaitu bahwa tahap kehidupan seseorang dimulai dari lahir sampai mati, baik yang bersifat psikologik maupun sosial, serta dibentuk oleh pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang nantinya menjadi matang secara fisik dan psikologis.

Semakin bertambahnya usia seseorang, secara bertahap ia mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya karena berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial pada dewasa menurun, baik secara kualitas maupun kuantitasnya (Myers, 2012).

Psikososial merupakan keterkaitan antara 2 aspek yaitu aspek psikologis dansosial. Aspek psikologis berkaitan dengan perkembangan emosi dan kognitif yang berhubungan dengan kemampuan belajar, merasakan, dan mengingat. Sedangkan, aspek sosial berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan dengan orang lain (Loughrydan Eyber, 2011). Penelitian mengenai dampak maloklusi terhadap status psikososial remaja masih jarang dilakukan di luar negeri. Salah satu penelitian tentang dampak maloklusi terhadap status psikososial remaja di Brazil menyebutkan bahwa makin berat derajat keparahan maloklusi, maka semakin buruk dampaknya terhadap status psikososial remaja.

Dampak psikososial akibat maloklusi merupakan suatu fenomena yang dapat digambarkan sebagai suatu keadaan ketidaknyamanan yang berhubungan dengan penampilan, penghambatan interaksi sosial, perasaan ketidakbahagiaan dan perbandingan diri dengan orang lain. Peningkatan keparahan maloklusi berpengaruh terhadap meningkatnya dampak psikososial akibat estetika gigi (Bellot, Montiel, dan Almerich, 2013). Psychosocial Impact of Dental Aesthetics Questionnaire (PIDAQ) bertujuan untuk mengukur dampak psikologi serta sosial dari maloklusi.

Penelitian mengenai dampak dari adanya maloklusi terhadap keadaan psikologi khususnya harga diri remaja, pernah dilakukan di Indonesia pada tahun 1985 (Purwanegara, 1985). Kemudian, pada tahun 1998 di Bandung juga pernah ada penelitian mengenai korelasi antara tingkat keparahan maloklusi dengan harga diri remaja lanjut dengan tingkat pendapatan yang berbeda (Bergman, 1998). Selain itu, pada tahun 2009 pernah dilakukan penelitian tentang perbedaan pengaruh maloklusi kelas II divisi1 dan divisi 2 terhadap harga diri remaja (Tanugraha, 2009).

Menurut Mar’at (2009) istilah remaja (adolescence) menunjukkan suatu tahap perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa, yang ditandai oleh perubahan-perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan sosial. Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. WHO mendefinisikan remaja sebagai anak telah mencapai umur 10 – 19 tahun. Menurut UU Perburuhan anak dianggap remaja apabila telah mencapai umur 16 – 18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal sendiri.

Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu usia 12-15 tahun masa remaja awal, 15-18 tahun masa remaja pertengahan, dan usia 18-21 tahun merupakan masa remaja akhir. Tetapi, Monks, Knoers dan Haditono (2001). dalam Mar’at (2009) membedakan masa remaja atas empat bagian yaitu :

(1). Masa praremaja atau prapubertas (usia 10-12 tahun)

(2). Masa remaja awal atau pubertas (usia 12-15 tahun)

(3). Masa remaja pertengahan (usia 15-18 tahun), dan

(4). Masa remaja akhir (usia 18-21 tahun).

Masa remaja adalah masa pertumbuhan. Pertumbuhan terjadi baik secara fisik, yang ditandai dengan berkembangnya jaringan-jaringan dan organ tubuh yang membuatnya lebih berisi maupun secara kejiwaan, yaitu kelabilan emosi karena merupakan masa transisi dari jiwa kanak-kanak menuju dewasa (Garwatidan Wijayati, 2010).

Masa remaja awal ditandai dengan peningkatan yang cepat dan pertumbuhan dan pematangan fisik. Jadi tidaklah mengherankan apabila sebagian besar dan energi intelektual dan emosional pada masa remaja awal ini ditargetkan pada penilaian kembali dan restrukturisasi dan jati dirinya. Pada saat yang sama, penerimaan dan kelompok sebaya sangatlah penting. Perubahan sosial yang penting pada masa remaja meliputi meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, pola perilaku sosial yang lebih matang, pengelompokan sosial baru, dan nilai-nilai baru dalam pemilihan pemimpin, dan dalam dukungan sosial. Masa remaja menengah ditandai dengan hampir lengkapnya pertumbuhan pubertas, timbulnya ketrampilan-keterampilan berpikir yang baru, peningkatan pengenalan terhadap datangnya masa dewasa dan keinginan untuk memapankan jarak emosional dan psikologis dengan orang tua. Masa remaja akhir ditandai dengan persiapan untuk peran sebagai seorang dewasa, termasuk klarifikasi dan tujuan pekerjaan dan internalisasi suatu sistem nilai pribadi (Hurlock, 2003)

Oklusi yang ideal pada gigi dapat ditemukan pada keadaan statis dan pada saat oklusi fungsional. Oklusi pada keadaan statis adalah posisi apapun antara gigi rahangatas dan bawah dikontakkan. Sedangkan oklusi fungsional adalah pergerakan mandibular yang mengakibatkan gigi rahang bawah  dan rahang atas berkontak. Kunci oklusi yang normal menurut Angle adalah hubungan antero-posterior gigi permanen molar pertama, yang merupakan penentuan hubungan lengkung gigi.Sekitar 100 tahun setelah Angle, Andrew mendefinisikan kembali tentang konsepoklusi status yang ideal dengan menggambarkannya dalam 6 kunci individual, diajuga memperbarui oklusi ideal yang melihat hubungan antara molar pertama (Cobourne dan Di Biase, 2010).

Maloklusi merupakan keadaan yang menyimpang dari oklusi normal meliputi ketidakteraturan gigi-geligi dalam lengkung rahang seperti  gigi berjejal, protrusif, malposisi maupun hubungan yang tidak harmonis dengan gigi antagonisnya (Djunaid, Gunawan, dan Khoman, 2013). Perawatan ortodonti dibutuhkan karena adanya gigi yang berjejal, deep overbite, increased overjet, openbite, diastema, crossbite, dan reverseoverjet or lower jawprotrusion (Gambar 2.2). Gigi berjejal merupakan keadaan dimana susunan gigi yang sangat tidak rapi, ukuran gigi terlalu besar untuk rongga mulut. Hubungan pengunyahan sangat minim dan keadaan seperti ini sangat tidak enak dipandang. Gigikaninus rahang atas merupakan salah satu gigi yang paling sering menjadi penyebabnya. Deep overbite merupakan keadaan gigi anterior atas dan bawah yang tumpang tindih yang akan menyebabkan kerusakan jaringan yang signifikan. Increased overjet merupakan keadaan gigi anterior rahang atas yang menonjol dan berada di luar kontak normal dengan gigi rahang bawah sehingga gigitan menjadi tidak seimbang yang akan menyebabkan pertumbuhan rahang yang tidak merata. Open bite merupakan keadaan gigi anterior rahang atas dan rahang bawah yang tidak menyentuh saat menggigit, hal ini menyebabkan semua tekanan pengunyahan terjadi pada gigi belakang. Diastema merupakan keadaan yang terjadi karena adanya gigi yang telah hilang atau ukuran gigi yang lebih kecil dari ukuran rata-rata sehingga terdapat ruang di antara gigi. Crossbite merupakan keadaan yang terjadi ketika adanya gigitan dalam gigi anterior rahang atas terhadap gigi anterior rahang bawah, karena akan menyebabkan satu atau lebih gigi insisivus rahang bawah menjadi goyang. Reverse overjet or lower jaw protursion merupakan keadaan dimana rahang bawah lebih panjang daripada rahang atas (Profit, 2013).

Psikososial merupakan keterkaitan antara 2 aspek yaitu aspek psikologis dan sosial. Aspek psikologis berkaitan dengan perkembangan emosi dan kognitif yang berhubungan dengan kemampuan belajar, merasakan, dan mengingat. Sedangkan, aspek sosial berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan dengan orang lain dan dalam mengikuti norma-norma sosial danbudaya. Menurut kamus Oxford English Dictionary, psikososial berarti pengaruh faktor sosial terhadap pikiran ataupun tingkah laku individu serta kaitan antara pikiran dengan masyarakat sekitar dalam perkembangan manusia. Definisi ini menekankan pada pengaruh faktor sosial terhadap pikiran dan tingkah laku,demikian juga sebaliknya, pengaruh pikiran dan tingkah laku dalam dunia sosial (Loughry dan Eyber, 2011).

 

Perkembangan Psikososial Remaja

Remaja merupakan peralihan masa anak-anak ke dewasa, dengan kisaran usia 12-21 tahun. Seiring peran dalam mempersiapkan diri menuju dewasa, remaja mulai berperan sebagai orang dewasa. Karena itu, banyak remaja mencoba melakukan berbagai aktivitas yang dilakukan orang dewasa, seperti bergabung dalam organisasi dan aktif dalam peran di masyarakat (Hurlock, 2003).

Sebagai salah satu bagian dari tahap perkembangan psikososial menurut Erikson, masa remaja merupakan saat pembentukan identitas diri dan peran dalam hubungan sosial (identity vs role confusion). Pada masa ini, remaja berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan perannya, yang ditunjukkan dengan penampilan, perilaku, cara berbicara, dengan cara berpakaian. Di samping itu, mulai muncul kepedulian akan tanggapan orang lain tentang penampilan dan identitas diri (Sarwono,2012). Pandangan dari orang lain ini akan berpengaruh dalam pembentukan konsep diri.

Konsep diri yaitu suatu pandangan individu tentang seluruh keadaan dirinya, yang mencakup dimensi fisik, karakter, motivasi, kelemahan, kegagalan, kepandaian, dan sebagainya. Konsep diri terdiri dari berbagai komponen,yaitu subject self (kita melihat diri sendiri seperti apa), body image (kesadaran tentang penampilan diri), ideal self (gambaran diri yang ideal), real self (diri kitayang sebenarnya), dan social self (bagaimana masyarakat luas melihat diri kita). Menurut Coopersmith (1993), konsep diri yang positif meliputi evaluasi diri yang positif, penghargaan dan penerimaan diri yang positif.

Pada usia remaja juga mulai terjadi proses pembentukan kepercayaan diri. Percaya diri (self-confidence) merupakan usaha untuk membangkitkan dan memelihara sikap hidup positif, serta memiliki keyakinan pada diri sendiri dalam melakukan sesuatu. Rasa percaya diri yang tinggi ditandai dengan sikap menerimadan menghargai diri sendiri dan orang lain, memiliki keyakinan akan kemampuan yang dimiliki, berani menerima kegagalan maupun kekurangan, tidak selalu bergantung pada orang lain, dan merasa tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Pada masa remaja, kepercayaan diri ini penting dalam melakukan penyesuaian sosial. Rasa percaya diri yang tinggi akan memudahkan dalam beradaptasi dengan lingkungan sosialnya (Susanti, 2008).

Perkembangan sosial remaja lebih melibatkan teman sebaya dibandingkan orang tua. Remaja lebih banyak menghabiskan waktu dengan melakukan aktivitas di luar rumah, seperti kegiatan sekolah, ekstrakurikuler, dan bermain dengan teman. Oleh karena itu, persepsi, sikap, perilaku dan gaya hidup remaja sebagian besar dipengaruhi oleh teman-teman sebayanya.

Bagi remaja, penampilan wajah dan susunan gigi-geligi merupakan bagian yang penting dari penampilan fisik, terutama karena masa remaja merupakan tahap perkembangan psikososial yang pesat (Peres, Barros,et al. (2008). Studi menunjukkan bahwa penampilan wajah bukan hanya berpengaruh pada persepsi orang laintentang dirinya, namun juga berpengaruh pada persepsi diri. Persepsi diri yang baik akan menimbulkan kepuasan terhadap penampilan dan meningkatkan harga diri. Menurut Klages, dkk (2005), kepuasan terhadap diri ini dapat meningkatkan fungsi sosial (Klages, Aladar, Yvette, dan Andrej, 2005).

Berkaitan dengan dampak psikososial dari maloklusi, dalam studi longitudinal telah disebutkan bahwa maloklusi akan menimbulkan reaksi social yang dapat berakibat buruk pada konsep diri anak, remaja, maupun dewasa (Klages, Aladar, Yvette,dan Andrej, 2005). Pengaruh maloklusi terhadap aspek psikososial remaja di antaranya dapat menurunkan harga diri dan mempengaruhi kehidupan sosial. Mac Gregor dan Lansdown, dkk menemukan bahwa individu yang mengalami ejekan (teasing) cenderung kurang percaya diri dalam interaksi sosial dan memiliki harga diri yang rendah (Johal, Cheung, dan Marcenes, 2007). Penyebab dari stress psikososial ini, dapat dikelompokkan menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung. Penyebab secara langsung biasanya terjadi pada masa kanak-kanak yang dilakukan oleh teman–teman sekeliling (Phillips, Elizabeth,dan Hillary,1998). Halini biasanya berbentuk ejekan (teasing), julukan, dan hinaan fisik. Pengalaman buruk seperti ini bukan hanya berdampak pada keadaan psikososial saat ini, tetapi juga di masa mendatang (Zhang, Mc Grath, dan Hagg, 2006). Penyebab secara tidak langsung berasal dari persepsisosio-kultural atau stereotipe. Penilaian yang berkaitan dengan penampilan wajah dan gigi-geligi sering dijadikan stereotipe (Kenealy, Anne, et al., 2007).

Berkaitan dengan persepsi remaja terhadap maloklusi yang dialaminya, remaja memiliki persepsi negatif terhadap maloklusi yang dialami, merasa tidak puas dengan penampilan gigi-geligi, merasa keadaan gigi-geligi lebih buruk dibandingkan teman sebayanya, dan menerima ejekan. Keadaan maloklusi yang menimbulkan rasa tidak puas di antaranya yaitu jarak gigit besar (lebih dari 9 mm), gigi berjejal pada rahang atas, gigitan dalam dan gigitan terbuka. Dari antara berbagai karakteristik maloklusi tersebut, sebagian besar remaja menerima ejekan karena jarak gigit besar. Kemudian oleh Bernabe, de Oliviera, dan Sheiham (2007) berpendapat bahwa gigi anterior berjejal, gigi anterior atas protrusif, dan gigi anterior bercelah dapat menimbulkan ketidakpuasan terhadap penampilan dan memberikan dampak negatif terhadap kualitas hidup sehari-hari.

Persepsi akan penampilan gigi-geligi dan wajah dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya jenis kelamin, latar belakang sosial ekonomi, danusia. Pada orang dengan kelompok sosial ekonomi yang tinggi akan lebihmemberikan perhatian terhadap kondisi gigi-geligi serta lebih kritis dalam menilai penampilan dentofasial mereka. Demikian pula, pada kelompok usia yang lebih tua akan lebih memperhatikan penampilan gigi-geligi mereka (Alhaija, Kazem,dan Susan, 2005). Menurut penelitian terkini oleh Min-Ho Jung (2010), penampilan gigi-geligi lebih berpengaruh signifikan terhadap harga diri wanita dibandingkan laki-laki. Karakteristik maloklusi yang lebih berpengaruh signifikan dalam menurunkan harga diri remaja wanita yaitu gigi berjejal pada rahang atas depan dibandingkan dengan profil yang cembung.

Persepsi diri anak terhadap maloklusi juga dipengaruhi faktor etnis. Dalam sebuah penelitian dikatakan etnis kulit putih memiliki penilaian yang negatif mengenai jarak gigit,tumpang gigit dan gigi berjejal dibandingkan anak-anak dari etnis kulit hitam dan Hispanik (Kiyak,2006). Penilaian diri ini dipengaruhi oleh kesadaran akan kondisi diri dan keinginan untuk memperbaikinya. Sebagai contoh, mereka yang sadar dengan jarak gigit dan tumpang gigit yang berat memiliki penilaian diri yang lebih rendah dibandingkan mereka yang kurang sadar dengan maloklusi yang dialami. Bersesuaian dengan itu, menurut penelitian lain, diketahui bahwa remaja Amerika paling kritis menilai penampilan diri sendiri dan orang lain dibandingkan Jepang dan China. (Reichmuth, Keri,et al., 2005).

Penampilan wajah yang menarik memegang peranan penting dalam meningkatkan persepsi terhadap status psikososial dan kepercayaan diri serta estetika diri. Hal ini disebabkan karena seseorang yang memiliki penampilan wajah yang optimal tidak hanya terlihat lebih menarik, tetapi juga lebih mudah diterima di lingkungan sosial. Kualitas kesehatan mulut seseorang dapat didefinisikan sebagai kesehatan mulut dan jaringan yang memungkinkan individu untuk makan, berbicara, bersosialisasi, tanpa penyakit aktif, ketidaknyamanan atau malu, atau tidak adanya dampak negatif dari estetika dental pada kehidupan sosial dan kepercayaan dirinya. Beberapa orang yang memiliki permasalahan dengan estetika dental dapat menganggu perkembangan kepribadian dan psikososialnya (Anastasidan Spennato, 2014).

Keadaan maloklusi yang menimbulkan rasa tidak puas di antaranya yaitu jarak gigit yang besar, gigi berjejal pada rahang atas, gigitan dalam dan gigitan terbuka. Di antara berbagai karakteristik maloklusi tersebut, sebagian besar remaja menerima ejekan karena jarak gigit yang besar.

Hubungan gigi saat oklusi normal dipengaruhi posisi overjet dan overbite. Besar overjet dan overbite dapat terlihat jelas ketika berbicara atau berinteraksi dengan orang lain. Hal ini dapat menyebabkan pengaruhnya dalam status psikososial seseorang. Kualitas hidup remaja terjadi dengan kemantapan jati diri dan merupakan masa reproduktif, yang merupakan masa peralihan ke dewasa. Berbagai penelitian tentang pengaruh estetika dental terhadap status psikososial telah banyak dilakukan. Meskipun demikian penelitian seperti ini masih jarang di Indonesia khususnya di Kota Palembang (Ekuni et al, 2011). Bentuk maloklusi dilihat pula dari sisi gigi anterior. Hubungan maloklusi gigi anterior dapat dilihat dari overjet dan overbite. Overjet dan overbite mengacu pada hubungan bidang sagital dan vertikal. Pada bidang transversal, gigi-gigi posterior juga mempunyai hubungan ideal yang bervariasi. Pada hubungan ideal, gigi-gigi atas harus menumpuk pada gigi-gigi bawah pada kedua sisi (Foster, 2012).

Berkaitan dengan maloklusi yang dialami remaja terhadap persepsi dirinya, menurut penelitian Helm (1985) bahwa remaja memiliki persepsi psikososial negatif terhadap maloklusi yang dialaminya, merasa tidak puas dengan penampilan gigi berjejal, merasa keadaan gigi berjejal lebih buruk dibandingkan teman sebayanya, dan khawatir akan menerima ejekan.

Berdasarkan hasil penelitian Trye (2013) tentang pengaruh karakteristik gigi bercelah terhadap kehidupan sehari-hari, keadaan gigi bercelah berdampak negatif bagi status psikososial remaja. Hasil tersebut juga sama halnya dengan penelitian Bernabe et al (2007), yang menilai karakteristik oklusi gigi anterior terhadap persepsi remaja di Peru, diperoleh bahwa gigi bercelah berdampak negatif terhadap persepsi diri.

Oklusi merupakan gerakan maksila dan mandibula gigi yang saling berkontak. Salah satu penelitian tentang pengaruh estetika dental di Brazil menyebutkan bahwa, meskipun ketidakpuasan dengan penampilan gigi secara luas terkait dengan tingkat ketidakterarturan gigi baik dari overjet, overbite, protrusif, pergeseran gigi, impaksi gigi, dan keparahan penyimpangan, ada perbedaan pengakuan dan evaluasi dari mereka. Hubungan overjet dan overbite tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap status psikososial. Status psikososial itu sendiri tidak dapat dilihat hanya dari besar overjet dan overbite saja. Akan tetapi status psikososial juga dipengaruhi dari bentuk gigi yang tidak teratur atau menonjol, derajat keparahan maloklusi, profil muka, impaksi gigi dan pergeseran gigi. Beberapa siswa-siswi dengan bentuk gigi yang sangat parah bersikap acuh tak acuh terhadap estetika gigi mereka, sementara itu, mereka yang tidak memiliki bentuk gigi yang parah sangat mengkhawatirkan tentang penyimpangan kecil terhadap estetika giginya (Junior et al, 2009).

Indikator untuk menilai kebersihan mulut individu atau grup secara kuantitatif adalah Oral HigieneIndeks. Indeks ini juga telah dibuktikan sebagai alat yang berguna dalam epidemiologi dental serta evaluasi program kesehatan gigi. Kalkulus disebut juga “tartar” merupakan endapan keras hasil mineralisasi plak gigi, melekat erat mengelilingi mahkota dan akar gigi. Kalkulus secara langsung tidak berpengaruh terhadap terjadinya penyakit periodontal, akan tetapi karena kalkulus terbentuk dari plak gigi yang termineralisasi karena pengaruh komponen saliva, maka secara tidak langsung kalkulus juga dianggap sebagai penyebab keradangan gusi (gingivitis). Plak gigi dan kalkulus mempunyai hubungan yang erat dengan keradangan gusi, bila keradangan gusi ini tidak dirawat, akan berkembang menjadi periodontitis atau keradangan tulang penyangga gigi. Bahkan, kalkulus mempunyai hubungan yang lebih kuat dengan kerusakan perlekatan klinis dan kerusakan tulang dibanding plak supragingiva. Peradangan gingiva menjadi prediktor klinis kerusakan jaringan periodontal. Kalkulus dan peradangan gingiva adalah prediktor yang lebih baik untuk penyakit periodontal. Kalkulus dan indeks gingiva umumnya merupakan akibat plak dan tidak adanya terapi pencegahan periodontal. Kalkulus dan peradangan gingiva adalah indikator kualitas kontrol plak yang dilakukan oleh subjek selama berminggu-minggu sebelum pemeriksaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa higiene mulut yang buruk maka dapat mengakibatkan kerusakan dari jaringan penyangga gigi (Saptorini, 2011).

Penampilan gigi dan mulut berpengaruh terhadap kehidupan psikososial seseorang dan relasi dengan orang lain, yaitu bagaimana seseorang menjalani kehidupannya, bagaimana orang lain menilainya, dan bagaimana mereka bergaul, hal ini akan mempengaruhi citra diri, harga diri, dan kesejahteraan sosial (Traebet et al, 2007).

Dewasa ini konsep estetik gigi telah menemukan dasar yang lebih etis dan sehat, yaitu suatu perbaikan menyeluruh dari kesehatan gigi. Konsep estetik dalam keperawatan gigi dapat membantu remaja dalam mencapai rasa percaya dirinya. Seorang remaja dapat merasa percaya diri apabila gambaran gigi estetiknya berbentuk normal fisiologis dari gigi yang dirawat sehingga terlihat kesan menarik dari senyum dan ekspresi wajahnya (Ariningrum, 2001).

Menurut WHO, kelainan maloklusi dapat menyebabkan terjadinya masalah untuk pasien yaitu, diskriminasi sosial karena masalah penampilan dan estetik wajah atau dento-fasial; masalah dengan fungsi oral, termasuk adanya masalah dalam pergerakan rahang. Menurut World Health Organization (WHO) maloklusi adalah cacat atau gangguan fungsional yang dapat menjadi hambatan bagi kesehatan fisik maupun emosional dari pasien yang memerlukan perawatan. Ciri konsep diri yang negatif adalah peka terhadap kritik, cenderung merasa tidak disukai orang lain, dan pesismis, pandangan yang tidak teratur terhadap diri sendiri, dan tidak memiliki kestabilan. Kondisi seperti ini sering sekali ditemukan pada remaja (Ghufron et al, 2010).

Penderita maloklusi akan sulit untuk menyesuaikan diri dengan orang lain dan mengalami gangguan estetika serta emosi. Maloklusi terutama pada gigi anterior menyebabkan konsep diri estetika yang negatif (Khan et al, 2008).

Konsep diri hanya terdapat dalam pikiran seseorang dan bukan dalam realitas yang konkrit. Jadi konsep diri tergantung dengan pribadi masing-masing, bagaimana nilai-nilai ataupun kebiasaan yang ada dalam dirinya banyak ditentukan oleh bagaimana konsep yang dipunyainya mengenai dirinya sendiri dan pendapat mereka tentang dirinya sendiri (Gunarsa, 2008).

Maloklusi dapat mempengaruhi estetika wajah dalam berbagai cara, antara lain oklusi gigi yang baik, senyum yang menarik, serta profil wajah menyenangkan. Bentuk gigi yang mempengaruhi profil wajah dapat membuat penampilan fisik terlihat lebih indah atau malah terlihat lebih buruk (Arqoub dan Al, 2011). Dengan demikian maloklusi gigi dapat mempengaruhi hubungan sosial seseorang. Maloklusi gigi tidak hanya mempengaruhi fungsi pengunyahan dan penampilan lisan, tetapi juga dari faktor ekonomi, sosial, dan efek psikologis (Junior et al, 2009).

Maloklusi memiliki dampak terhadap pengunyahan, estetik wajah, dan status psikososial seseorang. Psikososial merupakan keterkaitan antara 2 aspek yaitu aspek psikologis dan sosial. Aspek psikologis berkaitan dengan perkembangan emosi dan kognitif yang berhubungan dengan kemampuan belajar, merasakan, dan mengingat. Aspek sosial berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan dengan orang lain dan dalam mengikuti norma-norma sosial dan budaya. Penampilan gigi-geligi seseorang dapat mempengaruhi interaksi sosial dan keadaan psikologisnya. Seseorang biasanya cenderung tidak percaya diri saat berbicara maupun tersenyum kepada orang lain karena estetika gigi anterior yang tidak rapi. Gigi anterior yang tidak rapi seperti gigi berjejal, gigi bercelah, dan gigi protrusi. (Arsie, 2012).

Sarver (2005) menyatakan orang yang mempunyai gangguan estetika seperti maloklusi cenderung menerima respon yang tidak menyenangkan dari orang lain sehingga menimbulkan rasa rendah diri. Selain itu, maloklusi adalah masalah oklusi gigi hasil dari adaptasi orofasial berbagai faktor etiologi, yang mengakibatkan berbagai implikasi mulai dari ketidakpuasan estetika pada perubahan berbicara, mengunyah, menelan, gangguan sendi temporo mandibular dan rasa sakit orofasial. ***