Ekspor Tinggi, Produksi Rendah? Ada Apa Dengan Jahe?

235

Oleh : Eunike Sola Gratia, Mahasiswi Politeknik Statistika STIS

Jahe adalah tumbuhan yang banyak hidup di Indonesia. Jahe yang dalam bahasa latin bernama Zingiber officinale Rosc. telah diketahui masyarakat indonesia sebagai tumbuhan yang memiliki banyak khasiat, diantaranya mengatasi masalah pencernaan, mengurangi mual, mengurangi rasa sakit, membantu proses detoksifikasi dan mencegah penyakit kulit, dan anti peradangan.

Di Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri, Jahe terdefinisi sebagai tanaman biofarmaka yang termasuk ke dalam kelompok tanaman Hortikultura. Tanaman hortikultura adalah tanaman yang berkaitan dengan kegiatan bercocok tanam seperti sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman hias, maupun tanaman obat-obatan/ tanaman biofarmaka.

Menurut publikasi BPS yang dirilis pada 5 Agustus 2018, jahe merupakan tanaman biofarmaka kelompok rimpang yang memiliki luas panen paling tinggi yaitu sebesar 10.675,97 hektar.

Data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) adalah data tentang luas tanaman jahe akhir triwulan yang lalu, luas tambah tanam, luas panen baik yang sudah habis maupun belum habis, luas lahan yang rusak/puso, luas tanaman akhir triwulan, produksi dari panen habis dan belum habis, satuan produksi dan harga jual petani tanaman biofarmaka. Dalam mengumpulkan data tanaman hortikultura termasuk jahe, BPS mendapatkan data dari petani/ kelompok tani, laporan petani kepada kepala desa, penghitungan berdasarkan bibit yang digunakan, perkiraan pengamatan lapangan/ eye estimation, dan informasi dari pedagang, asosiasi, koperasi, Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Posyandu, Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK), Balai Benih, Pedagang Benih, Aparat Desa, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dan Unit Pelayanan Teknis Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPT BPSB TPH).

Pada publikasi BPS tahun 2018, BPS merilis data bahwa produksi utama tanaman biofarmaka Indonesia adalah tanaman Jahe, yaitu sebesar 216.587 ton. Ekspor tertinggi tanaman biofarmaka di Indonesia juga dipegang oleh tanaman Jahe. Volume ekspor jahe sebesar 23.551,9 ton senilai 13,53 juta dollar. Tetapi seiring tingginya nilai ekspor tanaman Jahe, luas panen tanaman jahe juga mengalami penurunan luas panen terbesar yaitu sebesar 18,37 % atau seluas 2.375,73 ha. Selain itu juga, tanaman jahe mengalami penurunan produksi yang sangat besar yaitu sebesar 36,36 % walaupun tanaman jahe masih menjadi tanaman biofarmaka yang memiliki produksi terbesar. Jika dilihat dari sebaran wilayahnya, wilayah penghasil Jahe paling besar berada di Jawa timur yaitu sebesar 65.082.863 ton.

Penyebab turunnya luas panen dan produksi jahe dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Dari faktor internal sendiri yaitu karena fluktuasi produksi, mutu yang renda, dan serangan hama dan penyakit yang menyebabkan turunnya luas panen dan produksi jahe. Dari faktor eksternal, kebijakan pemerintah dan kurangnya pembekalan pemerintah tentang budidaya tanaman jahe yang baik dan benar menjadi alasan mengapa luas panen dan produksi tanaman jahe mengalami penurunan.

Di daerah Sumatera sendiri, terjadi penurunan areal panen jahe terendah dikarenakan munculnya serangan penyakit layu bakteri yang menimbulkan penurunan luas panen sebesar 15,23 % selama tahun 1999-2003 yang mengakibatkan berpindahnya sentra produksi jahe ke wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Masalah pokok yang dihadapi dalam pengembangan jahe adalah kesinambungan produksi karena ketergantungan pada musim, kerusakan hasil produksi karena keterbatasan gudang penyimpanan yang memadai dan belum berkembangnya industri pengolahan, skala usaha terbatas/kecil, terpencar-pencar dan belum merupakan usaha tani pokok sehingga pengelolaanya belum intensif, benih yang digunakan petani masih bervariasi dan kondisi iklim Indonesia yang sangat menunjang serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) .

Selain itu, petani jahe juga mengalami masalah modal dalam budidaya tanaman jahe. Jahe yang memiliki kualitas baik berasal dari bibit yang berkualitas baik pula. Selain itu, banyak juga petani jahe yang belum bisa membeli pupuk yang bagus untuk tanaman jahenya sehingga hasil produksi jahenya kurang baik pula.

Budidaya jahe memang budidaya yang membutuhkan modal yang banyak memiliki lebih banyak risiko dibandingkan tanaman biofarmaka yang lainnya. Meskipun demikian, tanaman jahe dapat menjadi penghasil pendapatan tertinggi bagi petani dan penyumbang pendapatan bagi negara lewat nilai ekspornya. Untuk meningkatkan luas panen dan produksi tanaman jahe, pemerintah dapat memulainya dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan tentang pembuatan pupuk organik sederhana dari bahan-bahan yang mudah didapatkan seperti kotoran sapi, dll.

Pemerintah juga dapat memberikan penguatan modal kepada petani berupa Kredit Usaha Kecil. Untuk pemasaran jahe, pemerintah dapat membangun atau memberikan ruang penyimpanan yang baik dan layak sehingga jahe yang telah dipanen tidak cepat membusuk.

Penyimpanan dengan rata-rata suhu harian 19,20o C dan kelembaban 90,1 % dapat mempertahankan tanaman jahe yang sudah dipanen sampai 5 bulan (Sukarman dan Seswita, 2012). Selain itu pemerintah dapat membuat kebijakan kerjasama antara petani jahe dengan industri tanaman obat dan pabrik jahe yang membutuhkan tanaman jahe dalam pembuatan produknya.

Pemerintah juga dapat membantu petani jahe untuk menjaga kestabilan harga di pasar nasional maupun internasional dengan cara menampung produksi jahe dengan harga beli yang sesuai dan memasarkannya sehingga harga jual petani lebih tinggi daripada harus menjual kepada agen.

Untuk petani jahe sendiri, harus semakin memperbaiki kualitas tanaman jahe yang dikerjakan. Petani jahe harus memperhatikan jenis benih yang hendak digunakan haruslah benih yang jelas asal usulnya, sehat, dan tidak tercampur varietas lain. Selain itu, petani juga harus memperhatikan pola budidaya tanaman jahenya, jarak tanamnya, pemupukannya, dan bagaimana cara memeliharanya.

Setelah panen, petani juga harus memperhatikan pola penyimpanan jahenya agar tidak mudah busuk dan bertahan hinga berbulan. Tentu saja produksi dan luas panen tanaman jahe akan meningkat kembali apabila terdapat kerjasama yang baik antara pemerintah, pengusaha industri obat dan jamu, dan petani tanaman jahe itu sendiri.

Ekspor jahe yang tinggi memang membahagiakan kita semua, tetapi apabila tidak disertai dengan produksi dan luas panen yang tinggi pula dapat menimbulkan masalah bagi negeri kita, Indonesia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here