Eksklusif, Diwawancarai Soal Badai di Tubuh Golkar Sumsel, Ridho Yahya Malah Ajak Lakukan Ini

0
481

PRABUMULIH — Bukan sebuah rahasia lagi, pasca tertangkap tangan oleh KPK, dan ditetapkan sebagai tersangka terhadap Ketua Partai Golkar Provinsi Sumsel, DRA menjadi sebuah cobaan berat bagi Partai berlambang Beringin saat ini.

Cobaan beruntun yang menimpa partai Golkar di Sumsel ini pun tak ayal banyak mengundang simpatik dan keprihatinan terutama dari para kader, masyarakat, dan tokoh politik dari partai tertua di Indonesia tersebut.

Salah satunya datang dari Ridho Yahya. Mantan Ketua DPD II Golkar kota Prabumulih dua periode, yang saat ini menjabat Wali Kota Prabumulih mengaku prihatin atas cobaan yang menimpa partai Golkar di Sumsel.

“Tentunya saya ikut prihatin dengan cobaan yang sedang dihadapi oleh partai Golkar saat ini,” ungkap Ir Ridho Yahya MM, saat diwawancarai para awak media di Gedung Pemerintah kota (Pemkot) Prabumulih, usai makan siang bersama di kantin Lantai 9 gedung tersebut, Senin (18/10/2021).

Pun demikian, dirinya tetap yakin Golkar tetap bisa bangkit dan cepat melewati badai besar tersebut.

“Kendati demikian Golkar adalah partai besar yang sering diterpa badai dahsyat, yang dimulai dari pusat dan yakinlah Golkar tetap bisa bangkit, karena Partai Golkar sudah terbiasa dengan Badai-badai Besar,” lanjut politisi Golkar, yang juga Ketua PDK Kosgoro 1957 Provinsi Sumsel ini, ketika kembali dimintai tanggapannya terkait penahanan ketua DPD Partai Golkar serta Pembina Golkar Sumsel oleh KPK dan Kejaksaan.

Dikatakannya, partai Golkar lah yang selalu memberikannya yang terbaik dan membesarkan namanya mulai dari tahun 2008 – 2013. Bahkan waktu Pilkada Prabumulih periode 2013 – 2018 pun dari partai Golkar, dan masih orang Golkar yang telah mengusung dan mensukseskannya menjadi Wali kota hingga 2 periode.

“Saya tak mungkin kacang lupa kulit dan tau asal usul, saya inginkan semua kader Golkar orang yang baik. Mari kita bersatu lupakan perbedaan, kembalikan kepercayaan masyarakat terhadap partai Golkar, apalagi sebentar lagi kita akan menghadapi Pileg, Pilpres, dan Pilkada, walaupun tidak bisa mendominasi berharap Partai Golkar masuk di Tiga Besar,” lanjut Ketua PDK Kosgoro 1957 Provinsi Sumsel, yang dilantik langsung Ketua Umum PDK Kosgoro 1957, HR Agung Laksono, pada (5/10/2019) lalu.

Disinggung tentang akan adanya pertemuan antar pengurus untuk menyatukan persepsi untuk membesarkan Golkar, Ridho Yahya mengatakan, dirinya sangat mendukung dan mengajak meninggalkan perbedaan untuk bersatu dan bersama-sama membesarkan partai Golkar.

“Mungkin nanti akan diangkat Plt dari Jakarta, dan sikap kita akan memberikan masukan untuk sesegera mungkin untuk mengumpulkan kader-kader Golkar, yang sempat berseberangan kita minta bersatu dan bersama-sama lagi untuk membesarkan partai Golkar yang menjadi harapan kita kepada Plt nanti.

Kalau untuk penunjukan diri saya memimpin provinsi, belum ada terpikirkan bagi saya, yang perlu dibenahi Golkar nya dulu, untuk masalah siapa yang akan memimpinnya dan menjadi ketua itu adalah urusan nanti, yang utama adalah bagaimana agar partai Golkar diselamatkan karena badai yang sangat besar ini, agar pemilih dan simpatisan masih tetap memilih Golkar, atas kejadian ini, yang menjadi harapan kita,” tandasnya, saat kembali disinggung terkait informasi penunjukan dirinya untuk mengemban amanah memimpin DPD Golkar Provinsi Sumsel.

“Atas kejadian yang menimpa partai Golkar ini saya sangat sedih, kawan-kawan mungkin sudah tau bahwasanya sudah ada lima partai yang mengajak saya bergabung, karena saya pegang prinsip jangan lupa kacang dengan kulitnya, waktu nyalon wakil wali kota dari Golkar dan wali kota pun dari Golkar, setelah tidak mencalonkan diri lagi kita keluar dari Golkar, itu yang tidak boleh dan yang terpenting kita harus tau asal usul kita dari mana,” imbuhnya.

Terakhir, adik kandung Wakil Gubernur Sumsel, H Mawardi Yahya ini berharap untuk ketuanya nanti agar bisa membesarkan partai Golkar dan bekerja tanpa pamrih, bukan untuk kepentingan pribadi.

“Untuk ketua yang akan datang jangan sampai hanya untuk kepentingan sesaat, kalau bisa untuk ketua kedepannya memang benar-benar membesarkan partai Golkar, kalau dia sudah punya niat dia bekerja tanpa pamrih dan akan melahirkan kader-kader dan ketua-ketua yang benar-benar solid yang punya tanggung jawab untuk partai Golkar, jangan nanti punya ketua punya keinginan pingin itu pingin ini dan saat tidak dicalonkan dalam bahasa Palembangnya “Merajuk” itu berarti dia tidak ikhlas,” lanjut Ridho Yahya, sembari mencontohkan pada saat pencalonan dirinya di provinsi beberapa tahun lalu.

“Waktu pencalonan provinsi yang terdahulu sempat ada konflik antara pak kahar dan pak Alex, dan kita tidak mencalonkan diri kunci kita agar tidak terjadi konflik,” tutupnya. (King)

Editor : Donni