Dua Tahun Berpisah dengan Istri, Oknum PNS DPPPP Diduga Gagahi Anak Kandungnya

0
933

Sumateranews.co.id, PRABUMULIH – Diduga tak sanggup menahan gejolak nafsu birahinya semenjak berpisah dengan istrinya, seorang oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Perikanan (DPPPP) Kota Prabumulih, HW (48), diduga nekat mencabuli putri kandungnya sendiri. Bahkan tak sampai disitu, warga Perumahan Griya Madang Permai Kelurahan Sungai Medang Kecamatan Cambai ini secara paksa menyetubuhi anak kandungnya berinisial PR (15) hingga terjadi sampai dua tahun lamanya.
Peristiwa dugaan pemerkosaan oleh ayah kandungnya sendiri terungkap, setelah ibu kandung korban HN (40) melaporkannya ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Prabumulih. Hingga berita ini ditulis, pelaku HW sudah berhasil diamankan dan masih menjalani proses penyelidikan petugas.
Pelaku berhasil ditangkap petugas Satreskrim Polres Prabumulih, saat sedang bekerja di Kantor DPPPP, pada Kamis siang (31/08) sekitar pukul 10.30 WIB kemarin atau sehari sebelum lebaran Idul Adha. Kepada petugas penyidik, tersangka tetap keukeh membantah telah menyetubuhi putri sulungnya, dan hanya fitnah dari mantan istrinya tersebut.
Bahkan pelaku sesumbar berani melakukan sumpah pocong, jika laporan dugaan pemerkosaan yang dia lakukan benar terjadi.
Sementara dalam laporannya, ibu korban menyebut peristiwa pencabulan dan pemerkosaan yang menimpa anak sulung dari tiga bersaudara tersebut berulang kali terjadi dan berlangsung sekitar dua tahun. Aksi bejat itu berawal, ketika dirinya dan mantan suaminya itu (pelaku, red) memutuskan untuk berpisah, pada tahun 2014 silam. Dari kesepakatan yang dibuat keduanya, pelaku mengambil hak asuh putri sulungnya. Sedangkan kedua adik laki-lakinya ikut ibunya.
Dari situlah petaka mulai terjadi dan menimpa korban. Pelaku yang bekerja nyambi berjualan jamu ini, yakni tepatnya pada akhir April 2014 atau Senin dini hari (24/04) sekitar pukul 01.00 WIB pulang kerumah. Pelaku yang melihat korban tidur terlelap diruangan tamu tengah, kemudian mengendongnya dan membawanya ke dalam kamar tidur pelaku.
Meski sempat memberikan perlawanan, korban tetap kalah tenaga dan hanya pasrah ketika pelaku menciumi pipi dan meremas-remas bagian payudara (maaf, red) milik korban. Tindakan senonoh itu terus terulang hingga hampir setiap hari, dan setiap melakukannya pelaku selalu mengancam akan membunuh dan menghabisi korban dan kedua adiknya jika hal tersebut dia beritahukan ke orang lain.
Bahkan saat pertama kali memperkosa korban, pelaku dengan beringasnya mengikat kedua tangan dan kakinya dengan menggunakan serbet dan dasi sekolah korban. Selanjutnya tanpa menaruh rasa ibah, dan kasian pelaku dengan buas menggarap tubuh korban yang baru mekar-mekarnya tersebut hingga terus terjadi sampai akhir tahun 2016 kemarin.
“Awalnyo, ketika pelaku masuk dalam kamar anak aku di kamarnyo dio sedang tedok dan itu dikatoke anak aku terjadi hampir setiap harinyo,” jelas HN saat memberikan keterangan dihadapan petugas PPA Polres Prabumulih.
Ditemui terpisah, pelaku HW membantah keras jika dirinya telah memperkosa anak kandungnya sendiri seperti yang dilaporkan oleh mantan istrinya (ibu korban, red). “Aku idak pernah melakukenyo itu pak, cakmano aku nak ngakui kalu aku idak pernah berbuat hal tersebut,” bantahnya, saat dibincangi awak media, Senin siang (04/09).
Tak hanya itu, untuk membuktikannya dirinya berani bersumpah pocong jika hal tersebut diminta. “Aku berani bersumpah pocong, bahkan bersumpah di bawah kitab suci Alquran aku siap melakukenyo,” sambung pelaku yang mengaku sedang mengurus proses perpindahan kerjanya di OKU Timur.
Kapolres Prabumulih, AKBP Andes Purwanti SE MM melalui Kasat Reskrim, AKP Eryadi Yuswanto SH MH didampingi Kanit PPA, Usmantoro SH saat dikonfirmasi membenarkan, pihaknya telah mengamankan seorang oknum PNS di lingkungan Pemkot Prabumulih karena terlibat kasus pemerkosaan terhadap anaknya sendiri.
“Pelaku sudah kita amankan, setelah menerima laporan dari pihak korban. Namun ia (pelaku) masih tidak mau mengakui perbuatannya dan masih diselidiki dengan memanggil saksi-saksi,” tandasnya.
Menurut Eryandi, akibat perbuatan asusila tersebut pelaku terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara. “Atas perbuatannya pelaku dijerat Pasal 81 dan Pasal 82 UU RI nomor 23 tahun 2009 tentang perlindungan anak dan perempuan, tegasnya.
Laporan : Abdullah Donni
Posting : Andre