Dua Kubu Adu Sajam, Nyaris Terjadi Pertumpahan Darah

0
470

Sumateranews.co.id, PALEMBANG – Usai sidang Pengadilan Negeri Klas IA Khusus Palembang, Kamis (19/10/17) dihebohkan perang antara dua kubu yakni pihak terdakwa dan pihak korban yang berjumlah puluhan orang, dengan menggunakan senjata tajam (sajam), keributan terjadi diduga ketidakpuasan diantara dua kubu.

Menurut pantauan Sumateranews.co.id, awalnya  perang terjadi terlebih dahulu kedua kubu adu mulut, dari tangga lantai dua Pengadilan Negeri Palembang hingga terjadi kejar-kejaran sampai di depan X Kantor Kejasaan Tinggi Sumsel tepatnya di Jalan Jl. Ade irma Suryani Palembang.

Tentu saja peristiwa ini sangat mencekam bagi para pengunjung terutama salah satu jaksa yang ingin pulang kekantornya menjadi tertunda, menunggu sampai perkelahian itu selesai.

Untungnya peristiwa tersebut tidak sampai memakan korban, usai perang kedua belah pihak saling membubarkan diri dan akhirnya petugas polisi datang. Dan salah satu polisi mengatakan kepada pihak yang bertikai untuk melaporkan peristiwa tersebut pada pihak yang berwenang.

Diketahui, sebelumnya hal tersebut dipicu dari tidak terimanya kedua pihak atas perkara yang dipersidangkan hari ini, dengan 7 orang terdakwa. Agus ,Taufik, Helmi, Andi, Aan, Fitri, Antoni, disidang sebelumnya bahkan kuasa hukum mereka Jhon fredy SH menyatakan protesnya saat majelis hakim hendak membacakan penetapan penahanan yang urung dibacakan, “Majelis saya keberatan, saya keluar dari persidangan, ini tidak benar,” ujar Jhon di muka sidang.

Aksi protes pun tak sampai disitu, pengunjung sidang yang rata-rata keluarga terdakwa juga langsung histeris sebelum akhirnya sidang ditutup dan penetapan urung dibacakan. “Penetapan urung kita bacakan karena situasi tidak kondusif,”ungkap majelis hakim.

Kericuhan tak sudah disitu saja, suasana tegang terasa saat salah satu keluarga terdakwa berdebat sengit dengan Pengacara Korban dan sempat saling tunjuk, aparat kepolisian yang mengawal langsung melerai pertikaian tersebut sebelum terjadi hal-hal yang tak di inginkan.

Sebelumnya, dipersidangan Penasehat hukum dari salah satu terdakwa yakni Andi juga melayangkan protes keras terhadap Jaksa Penuntut Umum (JPU) Syarif yang membuat Nama dan identitas terdakwa salah, yang seharusnya masih anak-anak malah disebut dewasa. “Umurnya saja baru 16 tahun waktu itu dan masih anak anak,” jelas Dr Fahmi SH MH selaku kuasa hukum Andi.

Sementara itu kuasa hukum terdakwa Jhon fredi SH mengaku, dirinya sangat keberatan atas hendak ditahannya klien mereka, Jhon menganggap putusan hakim berlebihan karena para terdakwa atau Kliennya tersebut sangat kooperatif dari awal kasus dimulai,”di polisi dan jaksa tidak di tahan, nah ini Hakim malah mau nahan alasanya apa, klien kami selalu tertib,” jelas Jhon menggebu.

Sedangkan Kuasa Hukum korban Desmon SH mengaku, sangat kesal dengan urungnya dilakukan penahanan menurutnya hal tersebut adalah bentuk penekanan atau interpensi pada proses hukum. “Jelas kami tidak terima, kami korban dan merasa di rugikan, jadi wajar kalau kami minta ditahan para terdakwa itu,” terangnya.

Ke 7 terdakwa ini diketahui dihadapkan ke meja persidangan lantaran pada tahun 2013 silam diduga melakukan pengrusakan dua unit kendaraan milik korban Alm Usman yang mana korban mengalami kerugian sebesar 500 ribu rupiah yang melanggar pasal 170 KUHP tentang pengrusakan.

 

 

Laporan : SU

Editor     : Syarif