Dolar Melambung, Tempe dan Tahu Dikecilkan

0
114

Sumateranews.co.id, PRABUMULIH – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, berimbas pada harga kedelai.
Seperti di Prabumulih harga kedelai sebagai bahan baku tempe dan tahu justru membuat pengusaha tahu tempe memutar otak.

“Hampir semua home industry tempe dan tahu di Kota Prabumulih ini mengeluhkan naiknya harga kedelai. Kami berharap pemerintah memberikan solusi buat pengrajin tempe dan tahu,” jelas Nungkus Siono.

Nungkus Siono yang biasa disapa Nunung, pengusaha tahu dan tempe adalah warga RT 01 RW 05, Kelurahan Karang Raja Kecamatan Prabumulih Timur.

“Biasanya harga kedelai perkilogram Rp, 7.600, tapi sekarang menarik menjadi Rp 8.200, dan itu sedikit membuat kita pengusaha tempe dan tahu kewalahan. Karena itu, untuk ukurannya ya kita sesuaikan dengan harga, yang pasti dikecilkan. Untuk 40 buah tahu harga 10.000 dan yang jumbo isi 40 tahu harganya 13 000,’’ cetusnya.

Kalau harga tempe sendiri, satu batang 1500 ukuran besar, sedangkan yang ukuran sedang, 4 batang tempe harganya Rp 5000. Dan yang sedikit besar 7 batang tempe harganya Rp 10000, kalau tidak dibagi susah menjualnya.

“Harapan kita selaku pengusaha tempe dan tahu, biar harga kedelai kembali seperti biasa, kalau terus naik, bingung kita mau jual berapa lagi, bisa sampai Rp 10.000 lebih,’’ ungkapnya.

“Sebelum harga kedelai naik, setiap hari kami bisa menghabiskan kedelai sekitar 300 Kg. Saat ini kedelai naik, kami hanya memproduksi sekitar 200 Kg,” tambahnya, Kamis (13/9).

Dia mengaku pihaknya tidak mengetahui persis kenapa harga bahan baku tempe dan tahu ini naik. Meski naiknya tidak signifikan, tapi memberatkan para pengrajin tempe dan tahu.

“Untuk pasokan kedelai sendiri, kita ambil di Pasar Inpres Prabumulih. Klau untuk sehari biasanya kita bikin sampai 32 ancam, satu ancam isinya 25,’’ jelas Nunung yang sampai hari ini belum punya karyawan, hanya dibantu keluarganya sendiri.

Ditanya ada berapa banyak pengusaha tempe tahu di Prabumulih? Menurut Nunung, ada 150-an pengusaha tahu tempe dan lokasinya berbeda, tapi masuk wilayah Prabumulih,’’ jelas laki laki yang menekuni usaha ini lebih kurang 30 tahun.

Laporan          : AD
Editor/Posting : Imam Ghazali