Dodi Reza Lawan Kampanye Negatif tentang Sawit Indonesia di Uni Eropa

81

Sumateranews.co.id, SEKAYU- Tantangan terbesar yang dihadapi industri sawit nasional saat ini dan tahun-tahun mendatang adalah kampanye negatif di luar negeri. Pihak Eropa menganggap industri sawit nasional tidak ramah lingkungan.

Padahal, sawit kini menjadi produk ekspor nomor satu di Indonesia dengan nilai US$ 20 miliar pada 2013. Meski menguntungkan, sawit mempunyai tantangan ke depan yang cukup berat dan harus disikapi dengan baik bila ingin tetap menjadi komoditas unggulan dalam waktu yang lama, yakni adanya kampanye negatif akan sawit. Sawit Indonesia diderah kampanye negatif dan rawan menghancurkan posisi Indonesia.

Apa bahayanya kampanye negatif ini? Uni Eropa (UE) yang mengeluarkan EU Labelling Regulation 1169/2011 mempersyaratkan pencantuman sumber minyak nabati secara spesifik untuk seluruh produk makanan yang beredar di UE. Selain itu Indonesia juga mendapat tuduhan dari UE atas produk biodiesel dan fatty alcohol. Dahsyat bukan?

Sejumlah masalah di atas bakal menjadi pokok pikiran paparan Bupati Muba H Dodi Reza Alex.
Selaku Bupati Musi Banyuasin dan Ketua LKTL (Lingkar Temu Kabupaten Lestari /Chairman of sustainable Districts Platform), Dodi punya banyak energi menuntaskan persoalan ini. Dia akan berjuang dan menghadiri undangan Aliansi Minyak Sawit Eropa/(EPOA) di European Palm Oil Conference, Madrid awal Oktober 2018.

Posisi Indonesia sebagai produsen terbesar kelapa sawit dunia harus tetap eksis. Di konferensi ini Dodi akan berjibaku bersama pembicara lainya dari Indonesia, yakni Enggartiasto Lukita, Menteri perdagangan Republik Indonesia/Minister of Trade Indonesia) dan Dubes RI Arif Havas Oegroseno untuk Negara Jerman (Ambassador Embassy of the Republic of Indonesia to Germany).

Ada sejumlah bekal mujarab yang akan ditebarkan orang nomor satu di Muba ini. Sebagai kabupaten di Sumatera Selatan, Muba punya lahan sawit sangat luas. Muba pun tercatat sebagai pelopor peremajaan sawit di Indonesia. Muba menjadi contoh program peremajaan kebun (Replanting) kelapa sawit melalui pendanaan langsung dari pemerintah pusat untuk 4.446 hektare kebun kelapa sawit masyarakat di daerahnya.

Kini, replanting telah berjalan dengan baik. Selanjutnya, Dodi akan menjalin sinergitas dengan pemerintah pusat dan stakeholder terkait untuk dikembangkan demi meningkatnya hasil panen. Targetnya, para petani kelapa sawit yang tadinya meraup 2 ton/ ha menjadi 8 ton/ha. Lebih penting lagi, Dodi punya arena untuk membukakan mata peserta konferensi sawit hingga memperjuangkan harga sawit Indonesia ke depannya.

“Saat ini kita diserang kampanye negatif yang menyatakan produksi minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) asal Asia tidak ramah lingkungan. Tuduhan ini digaungkan oleh negara-negara Eropa. Sehingga berefek penurunan harga minyak sawit di pasar globa. Muba sebagai pemasok produksi sawit Indonesia juga kena dampak,” terang Dodi Reza Alex, Minggu, (30/9/2018).

Di arena konferensi Minyak Sawit Eropa (European Palm Oil Conference,) EPOC 2018, Madrid Spanyol, Dodi harus meyakinkan pihak swasta industri sawit dunia, pemerintah Eropa serta para pakar minyak sawit dunia. Misi dan pesan bahwa kelapa Sawit Indonesia Ramah Lingkungan menjadi topik utama paparan ini.

“Hal inilah yang harus disikapi dengan baik oleh semua pemangku kepentingan di industri sawit indonesia. Saya bersama pemerintah Indonesia akan memperjuangkan misi ini di konferensi Minyak Sawit Eropa. Dunia harus tahu industri sawit Indonesia ramah lingkungan dan berkelanjutan,” terang Dodi yang akan berbicara pada 3 dan 4 Oktober 2018.

Menurut Dodi Reza Alex, konferensi ini juga menghadirkan Yayasan Spanyol tentang Minyak Sawit Berkelanjutan, proyek Minyak Sawit Berkelanjutan Eropa, dan sejalan dengan Inisiatif Nasional Eropa untuk Minyak Sawit Berkelanjutan, Negara Penghasil Minyak Sawit dan ‘Deklarasi Amsterdam Group. Pihak paling kompeten dalam industri sawit Eropa ini fokus dalam mendukung rantai suplai minyak sawit berkelanjutan sepenuhnya pada tahun 2020.

“Di konferensi ini kita akan mengkampanyekan hasil kelapa sawit Musi Banyuasin dan indonesia yang ramah lingkungan. Hasil kelapa sawit kita lebih baik dan ramah lingkungan. Pelaku sawit dunia dan Eropa harus paham posisi Indonesia dan Muba dalam hal penghasil sawit terbesar dunia. Tentu ke depan harga sawit Indonesia harus naik dan meningkatkan pendapatan petani kelapa sawit kita,” tegas Dodi.

Laporan : Hasbullah
Editor/Posting : Imam Ghazali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here