Corona Belum Reda, Sekolah Buka?

72
Ismawati (Aktivis Dakwah Banyuasin).

Oleh : Ismawati (Aktivis Dakwah Banyuasin)

Tak bisa dipungkiri, pandemi virus corona yang menggurita hingga kini tak kunjung mereda. Angka positif melonjak bahkan hampir 1000 kasus per hari membuat miris hati. Namun, pemerintah bukannya mencanangkan ‘lockdown’ sejak awal, kini disaat kondisi semakin terpuruk. Pemerintah malah ingin menerapkan wacana “hidup normal baru” bersama corona dan apabila dinilai hal ini justru dapat memicu penyebaran virus yang lebih masif pada gelombang kedua.

Kekhawatiran inilah yang juga dirasakan para orang tua kepada anaknya. Sejak dialih fungsikan kegiatan belajar ke sistem pembelajaran daring (dalam jaringan) secara online semenjak munculnya virus corona. Kini, memasuki masa new normal, tak menutup kemungkinan sekolah akan dibuka seperti biasanya.

Dilansir dari tribunnews.com pada 5 Juni 2020. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim menegaskan, hanya sekolah di zona hijau yang dapat kembali membuka pengajaran secara tatap muka di tengah pandemi virus corona. Meskipun Mendikbud belum memutuskan kapan mengawali Tahun Ajaran baru itu dimulai.

Dilematis dalam dunia pendidikan ini menghantarkan kepada kebingungan pemerintah dalam membuka sekolah, disisi lain para orang tua juga menginginkan anak-anaknya untuk kembali menimba ilmu di sekolah. Dilansir di merdeka.com Tahun Ajaran Baru 2020/2021 akan segera dimulai sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan seperti tahun sebelumnya yaitu minggu atau pekan ketiga bulan Juli 2020 yang ditetapkan dalam kalender pendidikan.

Hanya saja Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Evy Mulyani mengatakan pembukaan sekolah yang berada di zona hijau saja dan dilakukan dengan hati-hati. Yakni dengan tetap menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, physical distancing, rajin mencuci tangan, mengenakan masker dan yang lainnya. Namun, sekolah yang tetap berada di zona merah dan kuning tetap menjalankan sistem pembelajaran online dari rumah seperti menonton siaran TVRI dan media belajar lainnya.

Meskipun demikian, para orang tua juga dibuat khawatir jika menonton siaran TVRI. Pasalnya, Direktur Utama yang saat ini menjabat diketahui senang menonton pornografi dan pernah menjadi kontributor majalah pria dewasa bahkan sempat beredar di media sosial foto-foto yang menunjukkan bahwa beliau memiliki buku-buku berbau sosialisme. Hal ini tentu dapat mempengaruhi tayangan siar yang ditonton anak-anak nanti. Dan dengan mudah menyusupkan pemikiran barat yang dapat merusak akidah anak-anak didik kelak.

Di samping itu, kebijakan membuka sekolah di tengah pandemi virus Covid-19 yang belum mereda dinilai mampu lebih cepat menularkan virus tersebut. Meskipun dalam rencanannya sekolah yang akan dibuka adalah sekolah dalam daerah zona hijau. Namun, apakah anak-anak akan mampu menerapkan physical distancing, atau mengenakan masker sepanjang sekolah? Kita harusnya belajar dari Prancis dan Korea Selatan, membuka sekolah di masa pandemi belum reda akhirnya banyak murid-murid yang terpapar virus corona. lalu, bagaimana di Indonesia jika tetap “maksa” membuka sekolah? Daerah zona hijau pun tidak bisa dipastikan apakah benar-benar lolos dari corona.

Carut marutnya penyelesaian persoalan dalam sistem saat ini, jelas menunjukkan bahwa ketidakmampuan sistem kapitalis sekuler dalam mengatur kehidupan masyarakat. Karena sistem yang diterapkan tak mampu menempa pemimpin yang berorientasi fokus menyelesaikan masalah, malah justru akan menimbulkan masalah baru.

Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan hakikat seorang pemimpin. Rasulullah SAW bersabda : “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggungjawab terhadap rakyat yang diurusinya.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Seharusnya ketika menghadapi masalah, pemimpin dapat fokus menyelesaikan masalah itu dalam kacamata islam. Karena islam adalah agama yang sempurna, bukan hanya agama ritual namun juga ada hukum-hukum syariat sebagai petunjuk kehidupan manusia yang terdapat dalam Al-Qur’an, Hadist, Ijma’ dan Qiyas.

Maka, dalam menyelesaikan wabah menular adalah dengan lockdown. Namun, pemerintah tak mengambil langkah tersebut hanya demi kepentingan menyelamatkan ekonomi. Tapi, disaat wabah virus semakim menyebar luas ekonomi Indonesia pun kian melorot. Akhirnya berani mengambil wacana hidup normal baru, lagi-lagi alasan ekonomi. Sungguh, kebijakan yang membingungkan.

Utamanya dalam ranah pendidikan saat ini, pembelajaran daring tidak sepenuhnya dirasakan anak-anak didik. Sarana dan prasarana tidak begitu memadai karena banyak orang tua yang tidak memiliki perangkat elektronik pintar yang mendukung pembelajaran secara online. Media televisi pun kian disusupi tayangan yang dapat merusak akidah. Sungguh, kembalinya kepemimpinan yang bertanggungjawab penuh terhadap rakyat dan mampu mengambil solusi dari islam secara sempurna hanya didapat apabila sistem pemerintahan islam (Khilafah) ditegakkan di dunia ini.

Wallahu a’lam bishowab.

New Subject

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here