BPOM Palembang Selidiki Pengusaha Tahu dan Mie Kuning Basah Berformalin

41
Petugas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Palembang terus melakukan penyelidikan terhadap 2 (dua) pengusaha tahu putih dan mie kuning basah di Lubuklinggau. Pada produksi usaha keduanya, kedapatan mengandung bahan berbahaya jenis formalin.

Sumateranews.co.id, LUBUKLINGGAU – Petugas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Palembang terus melakukan penyelidikan terhadap 2 (dua) pengusaha tahu putih dan mie kuning basah di Lubuklinggau. Pada produksi usaha keduanya, kedapatan mengandung bahan berbahaya jenis formalin.

“Kalau alat bukti sudah lengkap kita akan naikan kasusnya. Kedua pelaku usaha saat ini lagi proses BAP dari penyelidik BPOM Palembang,” ungkap Kepala Bidang Penindakan BBPOM Palembang Tedy Wirawan didampingi Kepala BPOM Lubuklinggau Afdil Kurnia, Rabu (6/11/2019).

Menurut Tedy, dari hasil pengembangan kedua produk milik kedua pelaku tak hanya beredar di Lubuklinggau, namun juga daerah luar, seperti Musirawas, Muratara, Empat Lawang, dan Rejang Lebong-Bengkulu. Keduanya juga dikatakan Tedy, terancam hukuman maksimal 5 tahun penjara dan dendam Rp10 milyar.

“Kedua pelaku usaha ini, diancam hukuman maksimal 5 tahun penjara denda Rp10 miliar sesuai dengan Pasal 136 Undang-undang No.18 tahun 2012 tentang pangan,” tegas Tedy.

Sebelumnya, kedua produk usaha mie kuning basah milik HN, dan tahu putih milik RD kedapatan oleh petugas gabungan BPOM Palembang, Polda Sumsel, Pol PP Sumsel dan BPOM Lubuklinggau mengandung formalin di Kota Lubuklinggau, pada Selasa (5/11/2019).

Tak hanya mengamankan pelaku HN, petugas juga berhasil mengamankan barang bukti mie kuning basah seberat 100 kilogram, 2 unit mesin pembuat mie kuning dan cairan formalin sebanyak 2 jeriken. Kepada petugas, HN mengaku sudah memproduksi mie kuning basah dari sejak tahun 2016 lalu, dalam sehari HN bisa menghasilkan sebanyak 100 Kg mie kuning basah.

Menurut pengakuan HN, mie kuning basah produksinya ia jual ke pasar bukit sulap dengan harga Rp50 ribu per 10 kg.

Kemudian, petugas gabungan juga berhasil mengamankan satu pelaku usaha lagi yakni RD yang memproduksi tahu putih.

Dari pengakuan RD, setiap hari dirinya bisa memproduksi atau menghasilkan 12 ribu buah tahu putih atau setara dengan 300 Kg kedelai per hari. Ternyata RD memproduksi tahu putih yang mengandung formalin tersebut sejak tahun 2014 lalu, bahkan tahu putih tersebut telah beredar di pasar bukit sulap dengan harga sebesar Rp400 per buah.

Dari lokasi tempat pembuatan tahu putih milik RD ini, petugas berhasil mengamankan barang bukti berupa 8.200 tahu putih, cairan mengandung formalin satu ember dan dokumen usaha SITU dan SIUP.

Laporan : San

Editor    : Donni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here