Bantu Petani Sere Wangi, Said Sani Kembangkan Kompor Bahan Bakar Air

32
Bantu Petani Sere Wangi, Said Sani Kembangkan Kompor Bahan Bakar Air

GAYO LUES Untuk meringankan beban operasional petani Sere wangi,  Wakil Bupati Gayo Lues H. Said Sani mengembangkan kompor berbahan bakar air dan oli bekas.

Inovasi kompor ini di perkirakan dapat menghemat bahan bakar yang selama ini menggunakan Kayu.

Pada uji coba kompor berenergi air, pada Minggu (17/01/2021). Wakil Bupati Gayo Lues H. Said Sani menyebutkan, kompor dioperasikan dengan memanfaatkan dorongan uap Air ber bahan bakar oli bekas.

“Dalam satu liter oli bekas dapat menyelesaikan satu kali kukusan, dengan hasil 8 ons sampai 1 kilo.  Rencana kompor ini akan di kembangkan untuk membantu petani nilam, Saat ini baru delapan kompor yang di buat sebagai contoh. Bila memang betul betul efektive dari kampor kompensional akan dijadikan sebagai contoh bagi petani sere yang ingin menggunakannya,” sebut Wakil Bupati Gayo Lues H. Said Sani.

Selama ini petani sere di Gayo Lues masih menggunakan bahan bakar kayu dalam memproses sere wangi menjadi minyak. Bila masyarakat bisa menggunakan bahan bakar alternative lain seperti yang sedang dipakai ini bisa menghemat bahan bakar kayu dan mengurangi  penebangan hutan pinus sebagai bahan bakar.

Ada memang yang sudah dikembangkan bahan bakar oli dengan kompresor angin. Tetapi belum efektif karena dalam satu ketel bisa menghabiskan oli bekas hingga 6 liter. Sistem bolier di nilai belum feketive. Belum dapat memberikan kuntungan yang besar bagj petani sere.

Diharapkan bahan bakar uji coba ini berhasil dan dapat membantu beban petani sere teehadap biaya operasional produksi minyak sere.

Petani sere Gayo Lues Sumuruddin (43), sangat menyambut baik dengan dikembangkan kompor bertenaga air.  Dengan adanya kompor yang dimaksud bisa membantu sere wangi yang saat ini sedang gencar-gencarnya mencari alternative lain sebagai pengganti bahan bakar kayu yang sudah mulai langkah. Bila ada bahan bakar kayu harganya sudah sangat besar tidak sesuai dengan biaya operasioanal. Hingga banyak petani yang membiarkan kebunnya terlantar.

Laporan : Ardiyanto III Editor : Syarif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here