Aneh! Diminta Kejelasan Jumlah Besi, LHP Tim Audit Jembatan Tanah Kering Malah Bahas Volume

335
Hasil Laporan Pemeriksaan (LHP) terhadap Jembatan Tanah Kering di Desa Mukut, Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan pada Selasa (15/09/2020) telah keluar.

BANYUASIN – Hasil Laporan Pemeriksaan (LHP) terhadap Jembatan Tanah Kering di Desa Mukut, Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan pada Selasa (15/09/2020) telah keluar.

Terungkap dari LHP yang dilakukan oleh Tim Audit Independent dari Kejaksaan Negeri Pangkalan Balai Banyuasin dan Dinas Pekerja Umum Tata Ruang (PUTR) pada Senin (31/08/2020) bulan lalu, ternyata membahas tentang volume jembatan.

“Dapat disimpulkan tidak terdapat selisih volume kurang antara fisik terpasang dengan addendum, demikian laporan dibuat,” ujar Kasi Intel Kejaksaan Negeri Pangkalan Balai, Banyuasin, Habibi.

Disinggung soal hasil dari pemeriksaan ini tidak sesuai dengan permasalahan yang dipertanyakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Tegar, terkait mutu dan kualitas perbaikan jembatan yang diduga dikerjakan asal-asalan, dimana jumlah besi terindikasi tidak sesuai standar yang ada di RAB kontrak kerja.

“Kemarin rekan-rekan ikut, jadi saya juga menyampaikan ini berdasarkan kesimpulan para ahli,” jelas Kasi Intel Kejaksaan Negeri Pangkalan Balai Banyuasin Habibi.

Ketika ditanya lebih lanjut, apakah sebelumnya memang ada pemeriksaan lain sehingga LPH yang keluar berbeda dengan jumlah besi yang menjadi permasalahan?, Habibi kembali menjawab sama.

“Laporan ini sudah sampai kepada Kejaksaan Agung dan laporan LSM sama masalah jembatan itulah (Jumlah besi),” tandasnya.

Untuk diketahui, Jembatan Tanah Kering ini pernah dipermasalahkan oleh LSM Tegar terkait mutu dan kualitas perbaikannya yang diduga kerjakan asal-asalan, dimana jumlah besi terindikasi tidak sesuai standar yang ada di RAB kontrak kerja.

Anggaran dalam proyek tersebut berasal dari APBD Kabupaten Banyuasin tahun 2019, di bawah leding sektor Dinas PUTR Kabupaten Banyuasin. Dengan anggaran sebesar Rp 1.085.179.138.00,- Miliar.

Diketahui, pelaksana dari proyek pemeliharaan jembatan tersebut adalah CV. Mikha Karya. Menurut Ketua Investigasi LSM Tegar, Lukman mengatakan, hal itu dilakukan berdasarkan laporan warga. “Dan juga dari hasil investigasi yang dilakukan, diduga ada indikasi korupsi dalam realisasi konstruksi proyek jembatan tersebut,” ungkapnya.

Laporan : Rilis SMSI III Editor : Donni

New Subject

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here