Analisis Tatanan Dunia Baru Pasca Pandemi

247

Oleh : Nelly, M.Pd

Pegiat Opini, Medsos, Pemerhati Politik Dunia Islam

Wabah COVID-19 belum juga menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Tak ada seorangpun yang mampu memastikan kapan pandemi ini mereda, menghilang dan pergi.

Sementara dampak negatif yang telah ditimbulkan sungguh luar biasa, baik bagi kesehatan, nyawa hingga menyebabkan ekonomi dunia anjlok.

Apalagi luasan penyebarannya dalam skala global, terjadi di berbagai negara di belahan dunia.

Update corona dunia berdasarkan data dari worldometers.info, per Senin (1/6/2020) pukul 08.35 GMT, mencatat bahwa total pasien yang terjangkit COVID-19 sebanyak 6.278.671 orang. Total pasien yang meninggal akibat COVID-19 sebanyak 374.158 orang. Total pasien sembuh COVID-19 sebanyak 2.852.784 orang. Sebanyak 215 negara telah terjangkit.

Fakta yang terjadi di dunia menunjukan tren yang luar biasa akibat adanya wabah corona ini. Sebut saja negara-negara kapitalis adidaya dunia pun mulai kolaps di hadapan makhluk berpartikel renik berdiameter 50–200 nanometer ini.

Bahkan China yang awalnya begitu sombongnya dengan besarnya tentara, senjata, kemajuan ekonomi dan ketinggian teknologi, hari ini juga kewalahan menghentikan wabah pandemi.

Dunia tahu dari segi ekonomi China memiliki ekonomi yang berjaya, namun dampak COVID-19 yang kemudian diambil tindakan lockdown 76 hari saja, kini ekonomi harus nyungsep di kisaran 4 persen saja. Sementara kapitalis barat yaitu Amerika Serikat (AS) juga kewalahan menghadapi pandemi COVID-19.

Sementara rival terberatnya AS menempati kasus COVID-19 peringkat pertama sedunia. Amerika menjadi negara dengan kasus positif COVID-19 dengan 1.837.170 kasus, 599.867 orang sembuh, dan 106.195 orang meninggal.

Padahal AS diketahui memiliki fasilitas rumah sakit terbaik di dunia, berbagai teknologi maju dan riset kedokteran, serta anggaran kesehatan yang sangat besar yaitu 3,6 miliar U$D.

AS sebagai negeri kapitalis dunia yang menjadi kiblat negara-negara dunia, sama dengan kesombongannya kini mengaku kalah dihadapan rival dagangnya, yaitu China.

Sebagaimana berita yang dilansir dari viva.co., presiden Amerika Serikat, Donald Trump langsung menelepon presiden China, Xi Jinping.
Dalam akun twitternya, Trump berharap agar kerjasama yang baik dengan China bisa terjalin dalam menangani penyebaran COVID-19 di negara adidaya.

Permintaan tolong tersebut akan tentu menjadi sebuah pertanda kelemahan dari negara super power di hadapan negara-negara kecil lainnya.

Melihat kenyataannya ini, lantas bagaimana dengan Indonesia?, negeri mayoritas muslim tercinta? Dalam kurun waktu 3 bulan berjalan, dilansir pada laman berita ayobandung.com pasien positif COVID-19 di Indonesia sampai Senin (1/6/2020) mencapai 26.773 orang, 1.641 orang meninggal dunia, 7.015 dinyatakan sembuh.

Data ini masih menunjukkan Indonesia tertinggi kedua di ASEAN untuk kasus COVID-19.
Jumlah yang tergolong tinggi dengan rentan waktu penyebaran virus di seantero negeri sangat erat kaitannya dengan penanganan.

Sebagai negeri yang menerapkan sistem kapitalis sekuler kebijakan yang diambil pun terkesan lebih mementingkan aspek ekonomi dan investasi, dibandingkan penyelamatan jiwa dan kesehatan mental rakyat.

Padahal sebelum pandemi COVID-19, kondisi Indonesia sudah memburuk. Hal ini ditandai dengan membesarnya utang serta naiknya harga barang dan biaya pelayanan publik. Juga problematika sosial lainnya.

Dari berbagai fakta ini semakin menunjukkan akan tanda-tanda keruntuhan kapitalisme global. Hal ini tentu diperkuat oleh pernyataan Henry Kissinger yang menyatakan bahwa virus corona akan mengubah tatanan dunia selamanya.

Kantor berita Al-Jazeera (4/4/2020) mengutip pernyataan serigala politik Amerika dan mantan Menteri Luar Negeri, Henry Kissinger, dalam sebuah artikel di Wall Street Journal, bahwa pandemi corona akan mengubah sistem global selamanya.
Kissinger menjelaskan bahwa kerusakan yang disebabkan oleh pandemi virus corona mungkin bersifat sementara, tetapi kekacauan politik dan ekonomi yang disebabkannya dapat berlanjut selama beberapa generasi.

Jika demikian, akankah pandemi COVID-19 akan memberi peluang terjadinya perubahan dengan munculnya peradaban baru?

Akankah peradaban baru itu berada pada tangan Islam? Mampukah peradaban Islam tampil menggantikan keruntuhan peradaban kapitalisme sekuler?

Kini, tantangan historis yang dihadapi para pemimpin dunia adalah mengelola krisis dan membangun masa depan pada saat yang bersamaan.

Jika negara-negara kapitalis gagal dalam tantangan ini, berarti keruntuhan kapitalisme global kian menjadi keniscayaan.

Di sisi lain, kabar di atas tentu memberikan secercah harapan bagi kaum muslimin akan tegaknya kembali peradaban Islam yang telah lama tiada sejak keruntuhan khilafah Islamiyah pada tahun 1924.

Pandemi COVID-19 In syaa Allah merupakan kesempatan/peluang yang diberikan oleh Allah Swt untuk mengubah tatanan peradaban kapitalisme jahiliyah menjadi tatanan peradaban baru khilafah Islamiyah.

Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Apalagi jika Allah Swt telah menghendakinya. Sejarah telah mengajari kita bagaimana Allah Swt telah mempergilirkan kepemimpinan sebuah peradaban atas dunia. Bicara kemungkinan, perubahan tatanan dunia baru pasca pandemi COVID-19 akan mungkin terjadi.

Hal ini diperkuat oleh pendapat Ibnu Khaldun dalam kitab Mukaddimah tentang lima sebab runtuhnya sebuah peradaban, yaitu pertama, ketika terjadi ketidakadilan (kesenjangan antara kaya dan miskin), kedua merajalelanya penindasan kelompok kuat terhadap kelompok lemah (negara kuat menindas negara lemah dan negara lemah harus mengikutinya).

Ketiga, runtuhnya moralitas pemimpin negara (korupsi, pidana, dll). Keempat, adanya pemimpin tertutup yang tidak mau dikritik, dan yang mengkritik akan dihukum. Kelima, terjadinya bencana besar (peperangan). Meski tak berwujud peperangan fisik, perlawanan terhadap COVID -19 bisa terkategori ini.

Jika ditelaah, adanya kelima sebab di atas sudah terjadi di dunia saat ini. Apalagi jika dikaitkan dengan laporan National Intelligence Council’s (NIC) pada Desember 2014 lalu yang berjudul “Mapping the Global Future.” Dalam laporan ini, diprediksi empat skenario dunia tahun 2020 salah satunya adalah A New Chaliphate.

Yaitu berdirinya kembali khilafah Islam, sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global Barat.

Salah satu skenario yang cukup kontroversial adalah kemunculan kembali khilafah Islam. Skenario seperti ini sangat jarang diungkap dalam berbagai analisis dunia internasional.
Bahkan banyak kaum muslim sendiri mengatakan berdirinya khilafah Islam adalah utopis dan mustahil.

Namun melihat berbagai fenomena kejatuhan kapitalis, akibat pandemi COVID-19 dan mulai bangkitnya persatuan kaum muslimin. Apakah prediksi NIC ini kian dekat menjadi kenyataan?

Tentu ini bisa menjadi kenyataan peradaban baru itu akan segera tegak, khilafah Islamiyah. Jika ditelusuri, pada dasarnya umat Islam memiliki potensi luar biasa, sebagaimana yang diungkap oleh Ustaz Abu Abdullah dalam buku “Emerging World Order The Islamic Khilafah State.”

Potensi kekuatan dunia Islam antara lain, kekuatan penduduk dan demografi.
Populasi umat Islam di dunia mencapai sekitar 1,6 miliar atau 24 persen dari total penduduk dunia. Umat muslim memiliki kekuatan militer.

Dengan jumlah militer berada di seluruh negeri kaum muslimin. Ditambah lagi kekuatan ekonomi dan industri. Dunia Islam memiliki cadangan energi dunia (minyak bumi), misalnya di negara-negara Teluk. Bahkan menjadi sumber energi terbesar dunia.

Pada aspek kekuatan posisi geostrategis. Dunia Islam memiliki lokasi geografis yang paling memungkinkan untuk membangun dan memelihara aliansi strategis kekuatan maritim dan sekaligus kontinental.

Ini sama saja dengan menguasai pintu-pintu dunia. Sedangkan kekuatan ideologi. Terletak pada kekuatan iman dan ajaran Islam yang solutif.

Secara historis, peradaban Islam telah terbukti berjaya menguasai dunia selama kisaran waktu 13 abad lebih lamanya. Sejak berdirinya daulah Islamiyah yang pertama di Madinah hingga Khilafah Utsmaniyah yang diruntuhkan oleh makar Mustafa Kemal Attaturk pada 1924 di Turki.

Hal ini menjadi pengalaman politik umat Islam dalam rentang waktu panjang telah memimpin peradaban dunia.

Secara imani, kaum muslimin meyakini bahwa hadirnya kembali khilafah Islamiyah merupakan janji Allah Swt. dan bisyarah Rasulullah Saw.

Tinggal sekarang kaum muslimin harus bersatu dan terus mendakwahkan Islam ketengah umat.

Terakhir adalah bersepakat untuk meninggalkan sistem kapitalis sekuler yang terbukti gagal mensejahterakan dunia.(**)

New Subject

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here