Alergi Terhadap Syariah Merupakan Penyakit Akut

684

Oleh : Hj.Padliyati Siregar

APARAT negara diminta tidak alergi dengan istilah syariah. Apalagi sampai menuduh syariah Islam bertentangan dengan Pancasila dan bisa disangka sebagai makar. Hal ini disampaikan Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Anton Tabah Digdoyo. “Tuduhan seperti itu sangat keliru besar,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang penulis kutip, Sabtu (10/8) lalu.

Menurut Anton, syariah adalah tatacara ibadah dan muamalah yang diajarkan Islam dari kelahiran pernikahan kematian semua ada syariatnya. “Hampir 99 persen kehidupan umat Islam diatur syariat,” jelasnya.

Jadi, menurut dia, tidak mungkin umat Islam tidak menegakkan Syariat Islam. “Salat harus pakai Syariat, puasa, zakat, haji, hidup bertetangga pakai syariah bahkan mohon maaf, silaturahim juga bagian dari syariah. Jadi tidak mungkin kita melepaskan syariat dalam hidup kita,” katanya.

Ia menjelaskan, dalam pelaksanaannya syariat itu dibagi tiga bagian. Pertama, bagian terbesar 99 persen dari Syariat Islam tak tergantung oleh negara, tak perlu UU. Seperti shalat, puasa, haji, zakat, umrah. Hal itu bisa dikerjakan oleh siapapun yang muslim tanpa melihat ada atau tidaknya UU.

“Syariat seperti ini berlaku bagi individu, keluarga dan masyarakat. Untuk pelaksanaan tidak diperlukan peran negara, tetapi bila negara mau ikut cawe-cawe boleh saja. Demikian pula dengan yayasan, partai, ormas, entitas apapun juga boleh dan tidak harus negara,” katanya.

Kedua, lanjutnya, syariat sering dikelirukan persepsi dan sangat ditakuti itu hukum pidana secara Islam (hudud) seperti hukum pidana qishos, rajam, potong tangan, qital. Padahal ini hanya sedikit sekitar 1 persen dari Syariat Islam. Pelaksanaan hudud ini harus dengan otoritas negara didukung UU, tidak boleh dilakukan secara individual, lewat ormas, partai, yayasan atau entitas lain.

Hukum pidana atau hudud ini harus dilakukan oleh negara dan berarti harus ada UU. Untuk buat UU wajib dengan kesepakatan rakyat. Jika rakyat tidak sepakat tidak boleh dilaksanakan apalagi dipaksakan.

“Inilah inti dari Pancasila jadi Islam sangat toleran dan umat Islam Pancasilais sejati, jangan diragukan,” ujar Dewan Pakar Kahmi ini.

Ketiga, inovasi dari pimpinan daerah dan komandan polisi di lapangan. Menurut Anton, syariah bisa memperkuat hukum positif seperti bahaya miras dan penyakit masyarakat (pekat) lainnya seperti judi dan seks bebas.

“Setiap saya jadi komandan di kewilayahan, saya lobi Pemda dan DPRD untuk buat Perda tentang Miras Pekat. Larangan kuliner daging anjing dan lainnya. Juga batasan wanita keluar rumah di malam hari dari jam 22 sampai jam 5 pagi tidak boleh sendirian. Bisa jalan dengan baik dan entah kenapa itu lalu diberi nama Perda Syariah,” jelasnya.

“Bagus juga, kan itu semua amanah Pancasila dan UUD 45 Pasal 28, 29, 31, dan lainnya,” imbuh mantan jenderal polisi ini.

Lalu masih menurut Anton, tentang khilafah, menurutnya hanyalah salah satu sistem memilih pemimpin secara Islam. Ini pun cuma wacana bukan untuk dipaksakan dan wacana ini dijamin UUD45.

Ia menegaskan, khilafah sangat jauh berbeda dan tidak bisa disejajarkan dengan paham komunisme, LGBT, liberal sekuler yang memang kontra dengan Pancasila dan dilarang UU.

“Jadi keliru jika bilang khilafah lebih berbahaya dari komunisme. Komunismelah yang sangat berbahaya dan mengancam Pancasila,” demikian Anton yang juga Anggota Komisi Hukum MUI.

Islam adalah agama yang syâmil (meliputi segala sesuatu) dan kâmil (sempurna). Sebagai agama yang syâmil, Islam menjelaskan semua hal dan mengatur segala perkara: akidah, ibadah, akhlak, makanan, pakaian, mumamalah, ‘uqûbât (sanksi hukum), dll. Tak ada satu perkara pun yang luput dari pengaturan Islam. Hal ini Allah SWT tegaskan di dalam al-Quran:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ

Kami telah menurunkan kepada kamu Al-Quran sebagai penjelas segala sesuatu (TQS an-Nahl [16]: 89).

Islam sekaligus merupakan agama yang kâmil (sempurna), yang tidak sedikit pun memiliki kekurangan. Hal ini Allah SWT tegaskan dalam firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian (Islam), telah melengkapi atas kalian nikmat-Ku dan telah meridhai Islam sebagai agama bagi kalian (TQS al-Maidah [5]: 3).

Karena itu tentu sebuah kelancangan jika kita menganggap ada hal-hal yang tidak diatur oleh Islam. Misal, ada yang berpendapat bahwa Islam tidak mengatur urusan negara, apalagi menentukan sistem dan bentuk negara bagi kaum Muslim. Alasannya, karena tidak ada perintahnya secara tekstual di dalam Al-Quran.

Pendapat demikian tentu berasal dari cara berpikir yang dangkal. Sebabnya, jika alasannya semata-mata tekstualitas nash, betapa banyak ajaran dan hukum Islam yang tidak secara tekstual dinyatakan oleh nash al-Quran, tetapi dijelaskan oleh as-Sunnah, Ijmak Sahabat atau Qiyas Syar’i. Contoh: Al-Quran secara tekstual hanya memerintahkan shalat, tetapi tidak menjelaskan syarat dan rukunnya, termasuk waktu-waktunya. Ketentuan rinci tentang shalat dijelaskan oleh As-Sunnah. Contoh lain: Al-Quran secara tekstual menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba, tetapi tidak menjelaskan syarat-syarat dan rukun jual-beli, macam-macam akad ribawi serta ketentuan rinci lainnya. Ketentuan rinci tentang jual-beli dan riba dijelaskan oleh as-Sunnah atau Ijmak Sahabat.

Demikian pula terkait pengurusan negara. Al-Quran memang tidak secara tegas (tekstual) menentukan sistem dan bentuk negara. Namun, ketentuan tentang sistem dan bentuk negara dijelaskan oleh banyak nash as-Sunnah atau ditegaskan oleh Ijmak Sahabat. Hal demikian amat mudah dipahami oleh mereka yang memahami ijtihad dan tentu akan gagal dipahami oleh mereka yang tidak mengerti ijtihad.

Waspadai Strategi Musuh Islam

Dunia Islam pada umumnya, hari ini didominasi oleh ideologi kapitalisme yang mengemban ideologi sekulerisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan yang berarti pula memisahkan agama dari politik dan kekuasaan. Islam tidak ada bedanya dengan agama Kristen, Hindu, Budha, dan yang lainnya hanya sekedar agama ruhiah (spirit) yang hanya mengatur urusan yang bersifat ruhiah, sementara urusan yang bersifat duniawi semisal politik bebas diatur dengan keinginan dan kehendak manusia.

Perang pemikiran atau ghazwul fikri adalah cara lain dari musuh-musuh Islam. Di antaranya Barat, dalam menghancurkan kaum muslimin. Perang pemikiran ini berbeda dengan perang militer atau fisik. Ia lebih soft, hemat waktu dan biaya bahkan lebih efektif dari perang fisik yang banyak menguras tenaga juga biaya yang tidak sedikit.

Ada beberapa sebab yang melatarbelakangi munculnya strategi ini. Pertama, sulitnya mengalahkan umat Islam secara militer. Bahkan invasi militer ini telah memakan biaya yang tidak sedikit & jatuhnya banyak korban tewas. Terbukti dengan adanya perang di Afghanistan, Iraq, Chechnya, Suriah dan sejumlah Negara muslimin lainnya. Namun mereka (Barat) tidak mampu mengalahkan dan menguasai Negara-negara tersebut. Inilah yang menyebabkan mereka mencari ‘jalan lain’ untuk melemahkan kaum muslimin.

Kedua, karena biayanya lebih rendah, mereka tidak perlu membeli tank-tank, pesawat-pesawat, amunisi. Yang mereka perlukan hanya menyebarkan ide-ide yang mereka usung keseluruh belahan dunia dengan tujuan imperialisme-kolonialisme. Ternyata, cara ini bisa melumpuhkan umat muslim sampai ke akarnya.

Mass Media dan saran lainnya mereka manfaatkan dengan maksimal untuk mengampanyekan pemikiran dan ide busuk mereka supaya terlihat indah dan menawan.

Ketiga,karena lebih mudah dilakukan berkat bantuan kaki tangan mereka dari kalangan munafiqin.

Keduanya berkolaborasi menyebarkan virus pemikiran yang sesat tersebut dan memolesnya dengan slogan-slogan menawan, seperti kebebasan berpikir, toleransi, HAM, dan lainnya.

Keempat,  memiliki hasil yang lebih memuaskan untuk melanggengkan penjajahan terhadap dunia Islam. Pemimpin-pemimpin negeri muslim yang berkiblat pada Barat dengan mudah dikontrol oleh mereka, bahkan menjadi boneka mereka yang menjalankan pemerintahan  di bawah perintah asing. Inilah yang melanggengkan cengkeraman barat di dunia islam.

Ada beberapa langkah dan strategi yang mereka jalankan dalam menjalankan projek ghazwul fikri.

Pertama, mendangkalkan Aqidah hingga pemurtadan. Jika tujuan ini berhasil, banyak nya muslim yang murtad mereka berpandangan umat akan menjadi lemah dalam segi kuantitas.

Kedua, menumbuhkan keraguan terhadap ajaran Islam. Yaitu dengan mengacak-acak syari’at Islam. Mereka menyebut syari’at islam sudah tertinggal oleh zaman tidak bisa diterapkan lagi dalam kehidupan sekarang, hukum potong tangan, rajam, jilid dsb-nya tidak manusiawi dan melanggar HAM.

Ketiga, mereka menciptakan sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan). Mereka berpendapat Agama tidak perlu dibawa-bawa dalam aktivitas keseharian terkhusus dalam hal pemerintahan.

Keempat, menumbuhkan Islamphobia baik pada kalangan (umat) Islam maupun  kalangan non-islam. Mereka menciptakan ide ‘Perang melawan Teroris’ yang hakikatnya perang melawan pejuang Islam untuk menegakkan Kalimatullah. Mereka mencitrakan para aktivis dakwah sebagai teroris dan berbahaya.

Kelima, merusak moral kaum muslimin. Mereka merusak moral kaum muslimin dengan cara “memperkenalkan” pergaulan bebas, Clubbing, free sex, lagu-lagu cengeng tentang cinta, budaya pacaran dan segudang aktifitas lainnya yang banyak dilakukan kaum muslimin sekarang ini khususnya generasi muda.

Keenam, memecah belah persatuan umat islam. Salah satunya dengan mengelompokkan kaum muslimin kepada, Islam Radikal atau Islam Fundamentalis, Tradisionalis dan Islam moderat.

ketujuh, melanggengkan kolonialisme baru di tengah-tengah dunia islam. Mereka menjajah, merampas kekayaan negeri-negeri muslim untuk kepentingan negara mereka. Mereka “membeli” orang-orang yang berpengaruh dalam negerinya untuk dijadikan antek mereka. Dengan cara seperti itu mereka dapat mengendalikan negeri kaum muslimin karena para penguasanya telah mereka “kuasai”.

Kita sebagai umat harus selalu waspada. Perkuat barisan dan ukhuwah, terus tambah keilmuan kita untuk menangkal dan melawan perang pemikiran yang dilancarkan musuh-musuh Islam. ***

 

Wallahu’alam bi showab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here