Agnes Mahasiswa Hasanuddin Makasar yang Ikhlas jadi Volunteer Asian Games

0
232

Sumateranews.co.id. PALEMBANG – Ada yang tak peduli bahkan tak tahu sama sekali helatan Asian Games 2018 di Jakarta Palembang kali ini. Tapi, tak sedikit pula yang mengagungkan ajang olahraga terbesar kedua di dunia setelah Olimpiade ini. Anda punya koneksi atau kemampuan khusus, Anda bisa jadi Panitia Pelaksana. Tapi, kesempatan pun terbuka bagi sukarelawan atau Volunteer dengan sejumlah persyaratan yang tak mudah. Usia tak di bawah 20 dan lebih diutamakan mahasiswa.

Adalah Agnes Sarce Grizelda Rahawarin, akrab di sapa Agnes. Semangat anak muda kelahiran 25 Juli 1997 dengan motivasi hidup yang luar biasa ini pantas jadi panutan. Agnes tahu persis kans menjadi volunteer, ia melamar. Mengikuti serangkaian tes tertulis hingga psikotes sekitar dua bulan, Agnes lolos.

Sulung dari dua bersaudara pasangan Christian Rahawarin dan Hasnawati ini pun bertekad bulat ingin merasakan pengalaman unik menjadi sukarelawan di Asian Games 2018. Karena itu, ia berjuang mendapatkan yang terbaik dari halation yang terakhir digelar di Indonesia 56 tahun lalu.

Sesungguhnya, Mahasiswi semester 5, Fakultas Kehutanan, Universitas Hassanudin, Makassar, ini punya banyak kemudahan, tak saja untuk jadi Volunteer, tapi menjadi panitia pelaksana pun ia bisa. Pamannya, Brigjen TNI Jeffry Rahawarin adalah Wakil Ketua Umum PB Pertina (Pengurus Besar Persatuan Tinju Indonesia) dan Venue Manager cabang tinju di Jakarta. Kecerdasan Agnes membuat ia diajak pamannya bergabung di Panpel cabang tinju Asian Games 2018.

Tapi, karena ingin mencari tantangan, Agnes menolak dan memilih ikut tes sesuai jalur dengan kemampuannya sendiri. “Saya diajak Om dan papa juga menyarankan ikut Om masuk Panpel tinju. Tapi, saya lebih suka ikut tes secara normal untuk membuktikan kemampuan saya sendiri karena saya optimistis bisa,” jelas dara manis yang merasa banyak meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya dengan menjadi volunteer.

Agnes tak mau separuh-separuh berjuang. Ketika lolos tes volunteer dan mengajukan penempatan, ia justru memilih Cluster Palembang sebagai base-nya. Bahkan ketika harus membayar tiket PP sendiri dan biaya nge-kost selama di Palembang dengan kocek sendiri pun, Agnes rela.

Padahal ia boleh memilih base Jakarta agar tak perlu keluar dana. Agnes sudah bertugas di Palembang sejak 15 Agustus dan akan selesai pada 3 September. Ditemui di venue Skateboard dan Rollersport (lokasi tugas Agnes), Sabtu (25/8), gadis murah senyum ini mengaku ingin mendapat real sejarah untuk dirinya.

“Berpartisipasi di Asian Games 2018 itu nilainya tak terukur dengan uang karena belum tentu sampai saya tua Asian Games mampir lagi ke Indonesia. Saya ingin membuatnya benar-benar sejarah buat diri saya. Jauh dari orang tua, mandiri dan menjalankan tugas dengan baik dan ikhlas.

Sebagai volunteer, Kami dibayar per hari Rp. 300.000,- saya sudah berterima kasih banget kepada panitia yang membayar kami karena apa yang saya dapat di sini dengan mendapat banyak teman dan jaringan, juga meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan juga belajar bagaimana memenej diri dengan orang banyak dalam sebuah pekerjaan besar. Saya bangga sekali. Apalagi Indonesia hebat dalam helatan raksasa ini. Terima kasih Asian Games 2018,” tutur Agnes yang mengaku belum punya pacar ini.

Ada juga pengalaman menyesakkan yang ia dapat, seperti membayar ongkos Grab salah satu delegate negara tetangga yang tak mau bayar karena merasa ada fasilitas transportasi khusus. “Tapi, itu tak saya ambil di hati karena saya bahagia. Delegate-nya marah-marah karena ditinggal shuttle. Saya minta naik Grab dia marah karena tak mau bayar. Akhirnya saya bayar aja biar solved the problem,” cerita Agnez.

Laporan          : Yudi/Irfan
Editor/Posting : Imam Ghazali