Berbanggalah Pada Moral Sang Pelacur

358

Oleh : Awan Syahputra                                    Mahasiswa FH Unimal

Di malam bulan Desember awal itu, ku seruput kopi hitam yang ku pesan di coffe sekitaran kampus , Cuaca yang begitu dingin, bukan malah menghantarkan diri ini ke pulau kapuk tapi justru membawa ku berimajinasi soal bangsa ini, ditemani segelas kopi hitam.

Awalnya ku berfikir, begitu merajalela nya kemiskinan di negara yang katanya berkeadilan sosial, begitu masifnya pengangguran di negri yang memberikan jaminan kesejahteraan lewat peraturan perundang-undangan.

Sejenak ku cek data Badan pusat Statistik jumlah penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 25,14 juta orang,
Ini termasuk angka yang besar dari jumlah penduduk 250 juta jiwa.

Tentu, setiap pribadi punya cara sendiri untuk mengubah status sosial nya itu, berbagai cara dan upaya pasti dilakukan untuk kehidupan diri dan keluarga.

Lalu bagaimana dengan bahan pangan yang terus merunjak naik? Sedang pendapatan masih di posisi segitu saja, hal ini tentu membuat gejolak tersendiri di pikiran dan hati masyrakat.

Lain lagi kelakuan pemerintah, yang Terus-terusan beri janji ini dan itu, dari pusat sampai daerah, janji bak kentut, yang keluar lalu hilang begitu saja, seolah kata yang disusun tak berguna.

Sepintas alam pikiran ku berdialog, “jika demikian, rakyat tak sejahtera, dan pendapatan rendah, biaya hidup tinggi, lalu hal ini mendorong tindak kriminal dan pelacuran? “.

Aku mengetahui, pasti semua orang yang merasa taqwa, taat dan segala jenis kata imanlah, pasti benci bahkan menghardik orang kriminal dan pelacuran/Pekerja seks komersial akrabnya.
Tapi hakikatnya bukan harusnya mereka yang dibenci, namun perbuatan nyalah di benci, dan diberikan solusi.

Aku teringat, dalam riwayat sejarah, seorang pelacur yang berada di jalanan, lalu melihat seekor anjing yang kehausan, lemas tak berdaya, lalu ia membuka sepatu nya, mengambil air dan memberikan minum untuk sang anjing, dan pada akhirnya di akhir kehidupannya ia dijanjikan masuk dalam syurga.

Kisah seorang wanita dan anjing yang dikisahkan Rasulullah Muhammad SAW itu ada di dalam hadis Bukhari.
Dari Abi Hurairah Radialohu’anhu dari Rasulullah SAW berabda, “Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata, “Anjing ini hampir mati kehausan”. Lalu dilepasnya sepatunya lalu diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya minum. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum. (HR Bukhari).

 

Coba kita bayangkan, seekor pelacur menolong anjing? Tapi bisa dijanjikan Syurga?

Lalu bagaimana seorang wanita yang punya anak, tidak ada pekerjaan lain lagi, sedang biaya kehidupan melambung tinggi, dan ber-psk ia jadikan solusi, apakah ia tetap hina? Sedang ia berjuang untuk anak-anak nya?
Ku yakin, tak mungkin berjuang untuk anjing lebih mulia dari pada anak kandung dari rahim.

Pasti, semua orang anggap Pelacuran perbuatan biadab dan tak bermoral, melanggar asusila dan agama.
Tapi mana yang lebih tak bermoral? Menjadi Psk atau membiarkan anak dan keluarga mati kelaparan dan sengsara?

Sekali lagi, penulis bukannya malah memprovokasi mendukung pelacur, tapi dimana negara saat rakyat nya kesusahan? Yang katanya fakir miskin dan anak anak terlantar di peliharakan? Tapi di desa-desa faktanya masih ada yang makan pun susah, apalagi membuat anak untuk bersekolah.

Saat maraknya PSK disana sini, harusnya kita menyalahkan yang duduk nyaman di kursi, saat kampanye? Janjinya main indah, bagai angin nyaman dari syurga, dan setelah duduk? Katanya untuk membangun tak cukup 2 tahun, dah sudah 5 tahun butuh tahun berikutnya lagi.

Aku lebih bangga dengan mereka para PSK, berjuang habis-habisan, untuk anak dan keluarga tercinta, lalu apakah moral Pelacur lebih baik dari pemerintah?
Entahlah, kita rasakan saja sekarang ini.

Kembali ku tanya rekan,
” Bagaimana pandangan kalian tentang pelacur ? ”
Justru tak ada jawaban yang elegan, semua menghardik bahkan menyudutkan

Tapi jika kita tanya bagaimana dengan pemerintah A atau B?
Begitu pun masih banyak yang katakan bagus dan membangun

Ku yakin, pelacur yang menjadikan anak nya berguna bagi agama, nusa dan bangsa, tetap diperhitungkan oleh Tuhan amalnya.

Soal dosa? Itu urusan pada Tuhan, dan anak juga wajib di pertanggungjawaban

Tuhan Maha Pengasih dan penyayang, pasti selalu sayang hamba yang berjuang, sedang yang berbaik hati pada anjing? Di jamin oleh Tuhan, apalagi yang berjuang untuk anak demi kehidupan

Semoga kita senantiasa dalam perlindungan, ampunan Tuhan Yang Maha Esa.(**)

New Subject

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here