V “SEXY KILLER” FAKTA KELAM DI BALIK TERANGNYA LAMPU-LAMPU KOTA

105

Oleh : Susi Aulia

BARU – BARU ini lagi ramai menjadi obrolan masyarakat film dokumenter yang sudah tayang serentak di Indonesia sejak tanggal 05 April kemarin, sexy killer merupakan film dokumenter ke 12 dari tim ekspedisi Indonesia Biru dan rumah produksi wacthdoc. Film yang diproduksi watchdoc adalah film-film dokumenter tentang Indonesia dan termasuk film dokumenter yang kritis. Hingga akhir April 2019 lalu, sudah ditonton 20 juta kali di youtube.

Film Sexy Killer ini menceritakan bagaimana dampak besar dari pertambangan batubara dan PLTU terhadap masyarakat dan lingkungan, yang mana kita ketahui batubara merupakan sumber daya penghasil energi yang menghasilkan listrik  dan usaha pemerintah dalam memenuhi kebutuhan listrik di kota-kota besar. Namun ketergantungan listrik terhadap pasokan batubara ini hanyalah sebagian kecil yang diceritakan dalam film ini.

Misalnya penambangan batubara yang ada di Samarinda, Kalimantan Timur. Masyarakat disana sudah 20 tahun bertetangga dengan perusahaan penambang batubara. Lahan pertanian disana sebelumnya daerah yang subur dan hasil pertanian yang melimpah kini semua di babat habis di lubangi untuk menggali batubara sehingga petani dan nelayan lah yang menjadi korban, bahkan air yang dulunya bersih kini berubah menjadi keruh dan untuk mendapatkannya pun harus menempuh jarak yang cukup jauh.  Para petani yang  protes yang tidak mau menjual lahan nya ditangkap dan dipenjara.

Bekas galian pun memakan korban jiwa, antara tahun 2011 – 2018 tercatat 32 jiwa melayang, dan mirisnya lagi pemerintah setempat menganggap kejadian ini hanyalah kemalangan biasa. Padahal galian tersebut dekat dengan pemukiman warga dan berada tepat di belakang sekolah, tidak ada pembatas pagar atau tanda pengenal bahwa itu merupakan tempat berbahaya. Ketika wartawan mengkonfirmasi masalah banyaknya korban jiwa akibat bekas galian tersebut, kepada Gubernur Kalimantan Timur Bapak Isran Noor beliau mengatakan “korban jiwa itu dimana mana terjadi, berarti nasibnya meninggal dikolam tambang” sungguh ironi.

Untuk kita ingat kembali , ada sesuatu hal yg menarik ketika debat calon presiden beberapa hari yang lalu, ketika sang moderator memberikan pertanyaan “Bagaimana tanggapan anda sebagai seorang presiden sekarang atau presiden yang akan menjabat mendatang, tentang penambangan batubara ini yang sudah menghasilkan lobang-lobang bekas dari galian pertambangan?” untuk pertama kalinya mereka setuju atau sepakat atas pemecahan masalah atau solusi yang ada saat ini.

Karimun Jawa adalah salah satu tempat wisata yang ada di Jawa tengah, pulau tersebut menjadi wilayah perjalanan tongkang-tongkang batubara yang hilir mudik mengangakat batubara dari Kalimantan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berada di Jawa dan Bali. Banyaknya terumbu karang yang hancur karena bekas jangka tongkang ditambah jatuhnya batu bara kelaut sehingga semakin mencemari laut, belum lagi bertambahnya PLTU Batang di Jawa Tengah semakin membuat kapal sering lalu lalang di pulau tersebut. Itu hanya sedikit fenomena yang ditampilkan dalam film tersebut, belum lagi di daerah – daerah lain akan banyak kita jumpai masyarakat-masyarakat yang semakin tertindas dan terdzolimi.

Nama Luhut Binsar Panjaitan ikut terseret karena menjadi salah satu pemegang saham perusahaan batubara yaitu PT Toba Bara Tbk (TOBA), perusahaan tersebut disebut – sebut ikut menjadi salah satu pihak yang menambang batubara sampai dikirim ke berbagai kawasan untuk pembangunan PLTU yang dianggap tak bertanggung jawab dengan masyarakat sekitar, tidak hanya Luhut yang juga sebagai menteri Koordinator Bidang Kemaritiman serta salah satu pemegang saham,  ternyata ada juga beberapa nama dari pasangan calon presiden dan wakil presiden sebut saja Joko Widodo, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang sedang dan pernah memiliki jejak saham di perusahaan tambang batubara tersebut.

Memang Indonesia merupakan Negara yang sangat kaya akan sumber daya alam yang terbentang dari pulau Sumatera hingga Papua. Indonesia sebagai Negara dengan produksi batubara sebesar 319 juta ton  pada tahun 2018 yang lalu, membuat republik  ini sebagai penghasil batubara terbesar ketiga dibumi setelah Cina dan Amerika. Dan berdasarkan data tahun 2015 dari kementrian Energi Sumber Daya Alam dan Mineral, cadangan batubara Indonesia berlimpah dengan total cadangan 32 miliar ton yang terbukti sedangkan yang terkira mencapai angka 74 miliar ton.

Dua pulau Indonesia memiliki kandungan batubara terbesar adalah Sumatera dan Kalimantan, Sumatera mempunyai 12 miliar ton untuk cadangan terbukti dan 55 miliar ton cadangan terkira. Sedangkan Kalimantan cadangan batubara terbukti 19 miliar ton dan terkira 68 miliar ton dan Indonesia masih menyimpan cadangan mineral lain. Karena Indonesia merupakan Negara yang kaya akan hasil alam, sehingga “cukup waras” apabila pemerintah menggunakan kekayaan alam tersebut sebagai salah satu kekuatan energi Negara. Jika kekayaan sumber daya energi dan mineral di Indonesia dapat dikelola dan diolah dengan baik, negeri ini tentunya mampu menjadi Negara yang akan kaya raya dan mandiri. Namun sayang Indonesia yang kaya akan sumber daya alam ini dikelola dalam bingkai sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalis, yang mana para pemilik modal lah yang berhak dan berkuasa untuk mengelolanya tanpa perlu mematuhi peraturan yang ada.

Pembangunan ekonomi sudah selayaknya mempertimbangkan aspek kemanusiaan bukan hanya untuk meningkatkan pendapatan Negara, peran pemerintah sangat penting untuk mengatur investasi asing didalam pasar global, seringkali pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan mudahnya member izin guna membawa keuntungan untuk meningkatkan pendapatan daerah, tetapi jangan sampai ada banyak unsur lingkungan hidup dan nyawa manusia yang dikorbankan.

Barang tambang diberikan Allah untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. Dalam Al Quran hal ini telah dijelaskan dalam beberapa ayat, antara lain QS. Ar Ra’d :17 yang artinya “Allah telah menurukan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan batil. Adapun buih akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya, tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada dibumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan.”

Sudah sepatutnya Islam menjadi solusi bagi segala permasalahan di dunia ini, termasuk pertambangan. Pertambangan Indonesia yang kini kurang menguntungkan dari segi kesejahteraan masyarakat dan kurang bersahabat dengan lingkungan sudah sepatutnya diubah. Pengelolaan sumber daya alam tambang harus tetap menjaga keseimbangan dan kelestariannya. Karena kerusakan sumber daya alam tambang oleh manusia harus dipertanggung jawabkan didunia dan diakhirat. Prinsip ini berdasrakan pada QS. Ar Rum : 41 yang artinya “telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Wallahu’alam Bishowab ….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here