Program Kuliah dan Magang ke Taiwan Dinilai Mal Administrasi

97

Sumateranews.co.id, PANGKALPINANG – Program kuliah dan kerja magang ke negara Taiwan yang diprakarsai oleh Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman, melalui program Industry Academia Collaboration, oleh Dinas Pendidikan Provinsi Bangka Belitung (Babel) hingga kini sudah mengirimkan sebanyak 295 orang mahasiswa sejak tahun 2017 dan 2018.

Namun program kuliah dan magang itu dihentikan lantaran sempat dipermasalahkan oleh salah satu pimpinan DPRD Kepulauan Babel Deddy Yulianto. Hal tersebut dikarenakan pelaksanaan program kerjasama kedua negara tersebut antara Indonesia tidak ada hubungan diplomatik dengan Taiwan, dan itu dianggapnya melanggar aturan hukum atau mal administrasi.

Terlebih sejak Gubernur Kepulauan Babel Erzaldi Rosman pernah berkirim surat ke CEO Hongfu Internasional, dan melalui dinas pendidikan membuat surat nomor 421/2293/DISDIK/2018 yang isinya mohon dukungan ke kepala kantor dagang dan ekonomi Indonesia di Taiwan untuk meminta bantuan bimbingan selama kuliah di Taiwan.

Statemen Deddy Yulianto pun ramai dimuat oleh sejumlah media massa baik online dan cetak, mengatakan program kuliah dan magang dinilai eksploitasi tenaga kerja dibungkus dengan siswa magang.

Namun, akhirnya sejumlah perwakilan mahasiswa asal Bangka Belitung dan orang tua mahasiswa angkat bicara terkait pernyataan wakil ketua DPRD Kepulauan Babel yang menilai jika kegiatan sejumlah mahasiswa asal Babel tak lain suatu bentuk ekploitasi terhadap para mahasiswa dengan modus magang di negara Taiwan.

Pernyataan bantahan itu diungkapkan oleh perwakilan mahasiswa melalui rekaman video singkat dibuat oleh mahasiswa telah banyak ditonton ribuan masyarakat Bangka Belitung baik melalui WhatsApp (WA) dan medsos lainnya.

Dalam rekaman video singkat tampak beberapa perwakilan mahasiswa di luar mengatakan jika mereka pergi jauh ke luar daerah semata-mata hanya untuk kepentingan menimbah ilmu dan menambah wawasan mereka.

“Berlabuh ke negeri Formosa (Taiwan) sebagian menganggap bagian prestasi dan sebagian menganggap bentuk ekploitasi. Parahnya sang petinggi negeri seharusnya memberikan motivasi dan bukan melabeli bentuk ekploitasi,” kata mahasiswa tersebut didalam rekaman video yang sejumlah grup WhatsApp (WA) masyarakat Babel.

Kemudian perwakilan mahasiswa yang lainnya, menyatakan bahwa penilaian sebagian pihak yang menganggap jika sejumlah mahasiswa pergi ke negara Taiwan suatu bentuk ekploitasi.

Bahkan sindiran keras pun sempat diungkapkan perwakilan mahasiswa lainnya terkait pernyataan anggota dewan itu.

“Satu lagi! setiap aksi pasti ada reaksi!, apa yang kamu buat apa yang kamu lakukan dan apa yang kamu bicarakan semua orang bisa menilai. Namun sayang sekali mimpi anak Laskar Pelangi harus terkotori oleh fitnah ekploitasi. Tapi tak apa justru pernyataan dengan itu pernyataan ini kami buat,” tegas mahasiswa itu.

Sementara itu di tempat terpisah, perwakilan orang tua mahasiswa yang berhasil diwawancara Pewarta HPI Babel, mengatakan bahwa pernyataan yang disampaikan oleh Dedy Yulianto hanyalah persoalan pribadi dirinya dengan Gubernur Kepulauan Babel.

“Kalau ada kesalahan atau mal administrasi dalam program tersebut seharusnya sebagai wakil rakyat harus bijak menyikapi dan memberikan solusinya agar kami sebagai orang tua tenang bukan justru mencari kesalahannya,” ujar R orang tua dari perwakilan mahasiswa yang tidak mau ditulis namanya, Senin (3/11/2018).

Kemudian, dijelaskan oleh R keberadaan anaknya saat ini sehat-sehat dan tenang, sangat menikmati program kuliah dan magang tersebut.

“Alhamdulillah anak saya saat ini bersyukur adanya program yang dirintis oleh Pak Gubernur Babel, dan ia bisa mengirim sedikit uang kepada ibu dan adiknya. Hal ini yang membuat saya terharu harus berani beber fakta yang sebenarnya bahwa tidak benar mahasiswa yang di sana terkesan semuanya bermasalah,” pungkasnya.

Laporan          : AD/Rel
Editor/Posting : Imam Ghazali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here