Aktivitas Ratusan Ponton Tambang Apung Ilegal Ancam Ekosistem Kawasan DAS Bukit Layang-Desa Pugul

337
AKTIVITAS TAMBANG "TIMAH" APUNG ILEGAL: Sedikitnya ada 100 unit ponton tambang apung illegal hingga kini terus beroperasi di kawasan aliran DAS Desa Bukit Layang, Sungailiat, Bangka. Aktivitas liar penambang apung biji timah ini pun dikhawatirkan warga setempat dapat mengancam ekosistem dan ternak udang galah di kawasan perairan tersebut.

Kades Desa Bukit Layang Bantah Terima Fee

Sumateranews.co.id, SUNGAILIAT – Sedikitnya ada 100 unit ponton tambang apung illegal hingga kini terus beroperasi di kawasan aliran DAS Desa Bukit Layang, Sungailiat, Bangka. Aktivitas liar penambang apung biji timah ini pun dikhawatirkan warga setempat dapat mengancam ekosistem dan ternak udang galah di kawasan perairan tersebut.

“Hampir 100 unit ponton tambang apung beroperasi di aliran DAS Desa Bukit Layang, dan kami berani nambang di aliran itu karena sudah berkoordinasi dan membagi-bagi untuk anak yatim serta janda-janda di kampung kami,” sebut salah satu pengurus tambang apung, yang tidak diketahui namanya ketika dibincangi wartawan media siber ini, saat melakukan peliputan investigasi, Sabtu (13/4/2019).

Dia melanjutkan, tak hanya membagikan santunan kepada warga, pihaknya juga mengaku membayar uang fee kepada perangkat desa sebesar Rp5 ribu untuk sekali timbang setiap harinya .

“Dengan biji timah yang didapat tiap penambangnya, setiap hari akan ditimbang untuk dibayar fee Rp5.000 kepada Desa,” ungkapnya, seraya menambahkan dengan melakukan koordinasi (fee) itu, pihak dibebaskan menambang tanpa merasa khawatir dirazia petugas.

“Seperti Kamis (11/4) kemarin, mau ada razia oleh beberapa oknum petugas dari Polda bersama wartawan, tetapi ditahan oleh pengurus kampung Bukit Layang yang menelpon seorang oknum Satuan dari Korem untuk mengurusnya,” sebutnya.

Bahkan dia menuturkan, pihak penambang dari luar Desa Bukit Layang dan Desa Pugul dilarang masuk ke lokasi meski siapapun bekingnya. Karena untuk menghindari terjadinya bentrokan antar kelompok penambang.

“Tidak diperbolehkan untuk menambang di kawasan ini, dan itu tergantung masyarakat disini. Hanya kami, dan orang Desa Pugul yang ada haknya karena berada diperbatasan wilayah perairan ini,” tandasnya.

Ditemui terpisah, Kepala desa (Kades) Bukit Layang, Andry ketika dikonfirmasi terkait aktivitas penambangan biji timah liar di kawasan DAS desanya, mengaku pihaknya tidak pernah terlibat dengan pelaku tambang apung illegal tersebut.

Bahkan, dirinya juga membantah dikatakan telah menerima uang fee dari aktivitas tambang liar itu.

“Pemerintah desa tidak pernah terlibat dalam aktifitas tambang ilegal itu, apalagi sampai menerima fee. Tidak ada pernah berkoordinasi ke kita, dan tidak ada masuk 1 (satu) rupiah pun ke desa. Karena kami tahu tambang itu ilegal dan desa tidak pernah melegalkan aktifitas tersebut,” tegasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pihaknya bersama aparat penegak hukum (APH) sudah beberapa kali melakukan sosialisasi soal dampak aktivitas tambang ilegal tersebut. Tak hanya itu, pihaknya juga sudah memasang spanduk ancaman yang ditimbulkan dari aktivitas tambang di sekitar lokasi. Selain merusak ekosistem kehidupan yang ada di kawasan DAS, juga berdampak pada mata pencarian para nelayan yang mencari udang galah, kepiting, ikan dan sebagainya di lokasi tersebut.

“Himbauan berupa spanduk bertuliskan; “Dilarang Aktifitas Penambangan, Meracuni Udang Galah dan Berlangsungnya Ekosistem” sudah kita pasang bersama TNI dan Polri,” ungkapnya.

Terakhir dia mengatakan tidak akan bertanggung jawab, jika para penambang di aliran DAS itu terus membandel dan masih nekat beroperasi.

“Suatu saat terjadi penegakan hukum yang ditetapkan, maka itu menjadi resiko penambang itu sendiri,” pungkasnya.

Laporan : Suyanto

Editor     : Donni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here